Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Menengok Desa Helau Margo Rejo, Tumbuh dari Gotong Royong Warga

Kab. Lampung Selatan
3 min read
Menengok Desa Helau Margo Rejo, Tumbuh dari Gotong Royong Warga
Potret Desa Helau Margo Rejo Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan (instagram/margorejo_jatiagung)
  • Desa Helau Margo Rejo di Jati Agung membangun kemajuan melalui gotong royong warga, berlandaskan nilai hijau, elok, lestari, aman, dan unggul.

  • Teras Helau mengubah lahan depan rumah menjadi kebun sayur percontohan dengan kandang ayam dan kolam ikan, difasilitasi pemerintah desa untuk melatih kemandirian warga.

  • Bumdes Sehati menghasilkan 50-80 kilogram telur per hari untuk MBG dan kebutuhan warga, meski pengelolaannya terkendala sumber daya manusia serta modal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lampung Selatan, IDN Times - Menyusuri Desa Helau Margo Rejo, Kecamatan Jati Agung di Lampung Selatan, suasana desa yang rapi dan asri langsung mencuri perhatian. Menariknya lagi, desa tersebut tak hanya mengandalkan potensi alamnya, tetapi juga menghidupkan berbagai usaha mandiri dari tangan warganya.

Dari sudut-sudut desa yang ditata hingga aktivitas usaha masyarakat, Margo Rejo punya cerita menarik tentang bagaimana warga bergerak bersama untuk membuat desanya semakin hidup. Yuk, simak potret Desa Helau Margo Rejo berikut ini.

  1. 1. Gotong royong jadi cara warga membangun desa

    Potret Desa Helau Margo Rejo di Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan, sebagaimana diunggah akun Instagram margorejo_jatiagung.
    Potret Desa Helau Margo Rejo Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan (instagram/margorejo_jatiagung)

    Ada satu hal yang ingin terus dijaga Desa Margo Rejo, Jati Agung, Lampung Selatan, di tengah upaya membangun desa. Bagi Kepala Desa Margo Rejo, Berto Julian, kemajuan tidak hanya dilihat dari apa yang berhasil dibangun, tetapi juga dari bagaimana masyarakat ikut bergerak dan bekerja bersama.

    "Karena dari kebersamaan pasti lahir perubahan. Perubahan nyata yang pastinya akan membangun Desa Margo Rejo lebih maju, lebih baik dan lebih sejahtera," katanya.

    Menurut Berto, Desa Helau bukan sekadar program, melainkan gerakan untuk menghidupkan kembali gotong royong dan semangat masyarakat di Desa Margo Rejo. Warga didorong untuk ikut memiliki dan mengubah kepedulian menjadi aksi nyata.

    "Helau, hijau, elok, lestari, aman dan unggul adalah lima nilai satu tujuan satu semangat membangun Desa Margo Rejo untuk bersama-sama," tuturnya.

  2. 2. Teras rumah disulap jadi kebun sayur

    Pemandangan Desa Helau Margo Rejo di Kecamatan Jatiagung, Kabupaten Lampung Selatan, dilihat dari udara.
    Potret Desa Helau Margo Rejo Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan (instagram/margorejo_jatiagung)

    Salah satu sudut yang menarik perhatian saat berkunjung ke Desa Margo Rejo adalah teras rumah yang tidak dibiarkan begitu saja. Lahan di depan rumah justru dimanfaatkan menjadi kebun sayuran yang ditata rapi dan dipenuhi tanaman hijau.

    Pemilik Teras Helau, Muhramli, mengatakan, hanya menyediakan lahan, sementara pengelolaannya dibantu oleh perangkat desa. Beragam sayuran ditanam di sana, mulai dari kembang kol, kacang panjang, timun, kangkung, cabai, hingga pakcoi.

    "Mau apa saja sudah tersedia tercukupi. Ada kandang ayam, ada kolam ikan juga," ujarnya.

    Camat Jati Agung Rizwan Effendi menambahkan, Teras Helau memang dijadikan sebagai percontohan. Modal awal pembuatannya difasilitasi pemerintah desa sebagai upaya melatih masyarakat agar bisa lebih mandiri.

  3. 3. Hasilkan puluhan kilogram telur ayam setiap hari

    Potret Desa Helau Margo Rejo di Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan, yang dibagikan melalui Instagram.
    Potret Desa Helau Margo Rejo Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan (instagram/margorejo_jatiagung)

    Dari program tersebut, desa juga memiliki Bumdes Sehati yang mengelola peternakan ayam petelur sebagai bagian dari program ketahanan pangan 2025. Sekretaris Desa Margo Rejo Jumari mengatakan, peternakan tersebut mampu menghasilkan sekitar 50-80 kilogram telur dalam sehari.

    Hasilnya kemudian didistribusikan untuk kebutuhan MBG dan masyarakat, termasuk ketika warga menggelar hajatan. "Selama ini didistribusikan untuk MBG dan memenuhi kebutuhan masyarakat terutama saat menggelar acara hajatan mayoritas mengambil telur dari Bumdes," ujarnya.

    Meski begitu, pengelolaan ayam petelur masih menghadapi kendala. Jumari menyebut sumber daya manusia dan modal menjadi tantangan karena usaha tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar. Ia berharap, pemerintah pusat dapat memberikan bantuan dan stimulan untuk mendukung pengembangan program di desa.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More