Comscore Tracker

Mengenal Pabrik Karet PTPN VII Unit Tulungbuyut, Tua tapi Berprestasi

Dibangun sejak 1930, berkinerja terbaik I Semester I/2021

Way Kanan, IDN Times - Lamun tipis terus mengepul dari 32 cerobong Pabrik Pengolahan Karet (PPK) PTPN VII Unit Tulungbuyut. Bangunan dengan konstruksi batu bata merah setinggi 12 meter dengan panjang 40 meter itu usianya tak lagi muda.

Satu unit ban besar bekas traktor yang diletakkan di salah satu sudut halaman berusaha menegaskan ketuaannya dengan tulisan “Ribbed Smoked Sheet Factory—Unit Tulungbuyut—1930". Pabrik kebun karet seluas 5.611 hektare di Desa Kalipapan, Kecamatan Tulungbuyut, Kabupaten Way Kanan ini dibangun di masa pemerintahan Hindia Belanda pada 1930.

Pabrik yang dibangun 91 tahun lalu ini relatif masih asli. Pada 1990, pabrik ini dilakukan penambahan 24 kamar asap dengan kapasitas 450 kg. Penanda renovasi ini dituangkan pada satu prasasti di depan pabrik unit baru yang ditanda tangani Wakil Gubernur Lampung Subke Elyas Harun pada 12 Juli 1990.

Saat itu, PTPN VII masih bernama PTP X dengan simbol sebatang pohon dengan empat daun berlatar kuning.

1. Pabrik karet berkinerja terbaik I Semester I/2021

Mengenal Pabrik Karet PTPN VII Unit Tulungbuyut, Tua tapi BerprestasiPexels.com/

Aset yang kemudian dikelola oleh PTPN VII ini tak lekang oleh waktu. Bahkan, performanya mengolah getah menjadi bahan baku industri berbasis karet ini masih meraih predikat Pabrik Karet Berkinerja Terbaik I Semester I/2021 se PTPN Holding.

“Alhamdulillah, meskipun pabrik tua, kami masih bisa memaksimalkan produksi sehingga mendapat apresiasi dari Holding (PTPN Grup) sebagai Pabrik Karet Berkinerja Terbaik Semester I/2021. Ini adalah hasil kerja keras teman-teman secara keseluruhan. Terima kasih atas kerja kerasnya dan ini harus kita pertahankan,” kata Agus Faroni, Manajer PTPN VII Unit Tulungbuyut dalam pernyataan resmi, Senin (6/9/2021).

Tentang kinerja terbaiknya sehingga menyabet gelar juara, Agus mengatakan, butuh kerja serius untuk menjalankan seluruh proses sesuai dengan kapasitasnya. Ia mengatakan, meskipun yang mendapat penghargaan kinerja terbaik adalah unit pabrik, tetapi sejatinya apresiasi ini adalah karya bersama.

Mengutip statemen Direktur Utama PTPN VII Ryanto Wisnuardhy tentang kesaktian Keris Empu Gandring, Agus percaya kehebatan sesuatu dimulai dari bahan baku terbaik, proses sempurna, dan dikerjakan oleh ahlinya. Demikian juga dengan keberhasilan PPK Unit Tulungbuyut, kata Agus, didukung bahan baku getah terbaik, dioleh dengan pabrik yang standar, dan dikerjakan oleh tenaga kerja yang terampil dan ikhlas.

“Pabrik kami gak mungkin bisa berproduksi dengan kapasitas tinggi dan kualitas yang baik kalau bahan bakunya tidak baik. Artinya, ini memang hasil kerja bersama. Perawatan kebun bagus akan menumbuhkan batang yang bagus sehingga menghasilkan getah yang bagus sebagai bahan baku. Terus diolah menghasilkan karet kualitas bagus sehingga dapat harga bagus juga di pasar,” kata mantan Sekretaris Perusahaan PTPN VII ini.

Baca Juga: Yubileum Karyawan, Direktur PTPN VII: Kerja Itu Ibadah

2. Ciptakan lingkungan kerja nyaman

Mengenal Pabrik Karet PTPN VII Unit Tulungbuyut, Tua tapi Berprestasipexels.com/Kaboompics .com

Tim penilai kinerja dari PTPN Holding yang kemudian memberi nilai terbaik kepada Pabrik Karet Tulungbuyut ini tidak semata mengacu kepada produktivitas. Dari tampak luarnya, pabrik yang juga membeli bahan baku karet petani sekitar itu juga dipoles sedemikian rupa. 

Komplek perkantoran, pabrik, perumahan, dan taman ditata dengan menjaga kebersihan, kerapihan, pemasangan merek dengan huruf akrilik, dan ruang terbuka yang terlihat asri.

Menurut Agus, penampilan luar pabrik akan membangun rasa nyaman kepada seluruh manusia yang beraktivitas dan berinteraksi dengan PTPN VII Unit Tulungbuyut. Jika sudah merasa nyaman, akan terbangun optimistis kepada setiap orang, percaya diri, bangga, ceria, dan dinamis untuk mengerjakan setiap tugas.

“Untuk membangun suasana nyaman bekerja, kita harus ciptakan lingkungan yang nyaman juga. Nanti kan akan timbul rasa cinta kepada pekerjaan dan sesama. Nah, itu dibutuhkan kepedulian, respek, dan kerjasaman yang solid. Ini kami bangun bersama selama setahun terakhir. Dan alhamdulillah bisa tercipta suasan kerja yang nyaman,” kata Agus yang sebelumnya menjabat Kabag SPI di Kantor Direksi PTPN VII.

3. Karet dibeli brand terkenal

Mengenal Pabrik Karet PTPN VII Unit Tulungbuyut, Tua tapi BerprestasiPabrik Pengolahan Karet (PPK) PTPN VII Unit Tulungbuyut di Desa Kalipapan, Kecamatan Tulungbuyut, Kabupaten Way Kanan. (IDN Times/Istimewa).

Beberapa poin penting dilakukan Agus bersama tim dari hilir, ia mempersyaratkan bahan baku berupa lateks dan karet remah (beku) dengan kualitas terbaik, tanpa kontaminan, dan treatmen yang tepat. Aspek ini membutuhkan pembinaan dan pengawasan yang ketat oleh para mandor dan asisten tanaman yang bergelut di kebun (on farm).

Bersamaan dengan penjagaan kualitas, penambahan kuantitas atau jumlah produksi getah juga terus ditingkatkan. Hal ini dilakukan selain agar kapasitas terpasang pada pabrik yang mengolahnya tercukupi dan terhindar dari idle capacity, juga agar produktivitas secara keseluruhan bisa ditingkatkan.

“Pabrik kita mengolah lateks untuk menghasilkan karet kualitas tinggi atau high grade berupa RSS (ribbed smoked sheet), SIR-20 (Standard Indonesian Rubber) low grade yang berbahan baku karet beku. Jadi, selain mengejar jumlah produksi, kami harus pastikan lateks dan crumb rubber, juga bokar tanpa kontaminan. Ini sangat kami jaga jangan sampai lolos,” kata manajer yang pernah menjadi General Manager Distrik Bengkulu itu.

Aspek kedua, menurut Agus adalah memastikan performa pabrik sesuai dengan kapasitas terpasang, bahkan lebih. Dia mengatakan, teknologi pengolahan karet menjadi bahan baku industri tidak serumit teknologi tinggi lain dan lebih banyak yang manual mekanis konvensional. Hal itu juga yang menguatkan bahwa serangkaian elemen pabrik yang dibangun Zaman Belanda masih berfungsi dengan baik.

Ia mencontohkan, tungku pengasapan dengan bahan bakar kayu yang dibangun 1930 masih difungsikan dengan baik. Dengan teknik sederhana, oven ini menghasilkan lembar-lembar karet kualitas ekspor yang sangat diminati pasar dunia.

“Meskipun kami masih pakai teknologi lama, produk karet kami diburu buyer dari mancanegara. Beberapa tahun lalu muncul karet sintetik, tetapi sekarang para kembali pakai karet alam. Bukannya sombong, karet kami ini dibeli pabrikan brand terkenal yang memproduksi ban pesawat terbang, ban mobil balap, dan brand kelas dunia lainnya,” tambahnya.

Aspek ketiga, menurut Agus, adalah membangun tim yang mempunya visi yang kuat. Agus memberi catatan khusus kepada aspek ini karena manyangkut soft skill atau kepiawaian yang bersifat individualis-subjektif.

4. Kapasitas pabrik bisa digeber hingga 50 ton

Mengenal Pabrik Karet PTPN VII Unit Tulungbuyut, Tua tapi BerprestasiPabrik Pengolahan Karet (PPK) PTPN VII Unit Tulungbuyut di Desa Kalipapan, Kecamatan Tulungbuyut, Kabupaten Way Kanan. (IDN Times/Istimewa).

Dengan semangat kebersamaan, produktivitas penggalian bahan baku telah menunjukkan progresivitas yang menjanjikan. Demikian juga dengan kinerja off farm atau pabrik, dari kapasitas terpasang pengolahan RSS yang 3 ton per hari, dapat dicapai 3,3 ton per hari tanpa tambahan jam kerja. 

Dari sisi kapasitas pabrik SIR, dari kapasitas 40 ton per hari bisa digeber sampai 50 ton per hari. “Semangat semua teman-teman di Unit Tulungbuyut sudah pulih dengan telah terpenuhinya hak-hak normatif karyawan. Juga suasana kerja yang cukup nyaman. Kami yakin, ke depan bisa lebih baik lagi di semua aspek,” kata Agus.

Baca Juga: Selamat! Empat Unit PTPN VII Raih Penghargaan PTPN Holding

Topic:

  • Martin Tobing

Berita Terkini Lainnya