Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
LARUMIE, Mi Instan Singkong Karya Mahasiswa Teknokrat Bebas Plastik
Empat mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) menghadirkan inovasi pangan kreatif bernama LARUMIE, mi sehat berbahan dasar singkong lokal Lampung (Dok.teknokrat.ac.id)
  • Empat mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia menciptakan LARUMIE, mi instan berbahan singkong lokal Lampung yang ramah lingkungan dan bebas plastik.
  • LARUMIE menggunakan teknologi edible coating untuk melapisi bumbu langsung pada mi, menghilangkan kebutuhan kemasan bumbu plastik terpisah.
  • Inovasi ini mendapat apresiasi luas karena dinilai sehat, praktis, serta mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan potensi daerah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Di tengah tingginya konsumsi mi instan di Indonesia, kekhawatiran soal dampak kesehatan hingga tumpukan sampah plastik dari kemasan sekali pakai ikut jadi perhatian banyak pihak.

Dari keresahan itulah, empat mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) menghadirkan inovasi pangan kreatif bernama LARUMIE, mi sehat berbahan dasar singkong lokal Lampung yang diklaim lebih ramah lingkungan.

LARUMIE dikembangkan oleh empat mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Teknokrat Indonesia, yakni Adelina Safitri, Deni Setiawan, Yayang Evina Syaputri, dan Yuzika Fitriya.

Mereka memanfaatkan singkong sebagai komoditas unggulan Lampung yang selama ini dikenal melimpah, namun belum banyak dikembangkan menjadi produk pangan modern bernilai ekonomi tinggi.

1. Menggunakan teknologi edible coating

ilustrasi mie instan (pexels.com/Cats Coming)

Salah satu pengembang produk, Yayang Evina Syaputri menjelaskan, LARUMIE hadir membawa konsep produksi berbeda dari mi instan pada umumnya. Produk ini dikembangkan dengan teknologi Edible Coating, metode pelapisan bumbu langsung pada mi sehingga tidak membutuhkan bungkus bumbu plastik terpisah.

Menurutnya, dengan pendekatan tersebut, LARUMIE dinilai menjadi jawaban bagi masyarakat yang menginginkan makanan instan lebih sehat, praktis, sekaligus berkelanjutan.

"Inovasi ini lahir dari kegelisahan melihat pola konsumsi masyarakat yang masih sangat bergantung pada makanan instan. Tapi, pilihan mi instan yang sehat dan tidak menambah persoalan lingkungan dinilai masih terbatas," ujarnya.

2. Perbedaan LARUMIE dengan mie instan di pasaran

ilustrasi singkong (pexels.com/ronlach)

Menurut Yayang, pemanfaatan singkong lokal juga menjadi upaya mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus memperkuat pemberdayaan potensi daerah.

Ia menilai, komoditas singkong seharusnya tidak hanya berhenti sebagai bahan pangan tradisional, tetapi juga bisa diolah menjadi produk modern yang mampu bersaing di pasar.

Proses produksi LARUMIE dimulai dari pemilihan singkong berkualitas. Singkong kemudian dibersihkan, dipotong, lalu diolah menjadi tepung sebagai bahan dasar mi. Tepung singkong itu selanjutnya dicampur dengan bahan alami lainnya tanpa penggunaan pengawet berlebihan agar tetap aman dan sehat dikonsumsi.

Setelah adonan terbentuk, proses pencetakan mi dilakukan menggunakan mesin khusus hingga menghasilkan tekstur mi yang lembut dan elastis. Dari sisi tampilan, LARUMIE dibuat menyerupai mi pada umumnya, sehingga tetap familiar di lidah konsumen.

"Menjadi pembeda utama LARUMIE terletak pada teknologi lapisan bumbu yang bisa dimakan. Berbeda dari mi instan konvensional yang bumbunya dikemas dalam plastik kecil, LARUMIE menghadirkan bumbu yang langsung menyatu di permukaan mi melalui proses edible coating berbahan pangan," jelasnya.

Setelah proses pelapisan selesai, lanjut Yayang, mi kemudian dikeringkan agar daya tahan produk meningkat. Tahap akhir dilakukan dengan pengemasan menggunakan desain modern dan menarik.

Seluruh proses produksi dilakukan secara higienis untuk menjaga kualitas serta keamanan pangan.

3. Dapat respons positif, rasanya unik dan lebih praktis

Ilustrasi mie instan (freepik.com/wirestock)

Inovasi mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia ini mmendapatapresiasi dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari dosen pembimbing sekaligus Wakil Dekan III FEB Universitas Teknokrat Indonesia, Febrian Eko Saputra.

Ia menilai, LARUMIE menjadi contoh nyata kreativitas mahasiswa dalam menjawab tantangan kesehatan dan lingkungan melalui inovasi berbasis kewirausahaan.

Respons positif juga muncul dari para pelajar yang mencoba langsung LARUMIE dalam sesi uji rasa. Banyak di antara mereka menyebut rasanya unik dan lebih praktis dibandingkan mi instan pada umumnya, karena tidak perlu lagi membuka kemasan bumbu terpisah.

Editorial Team