TBM Kolong Ciputat (Dok. TBM Kolong)
Sosok Yuli Yuliawati menjadi figur penting bagi anak-anak SD di Kampung Cicalung, Desa Mekarjaya, Kecamatan Panggarangan Kabupaten Lebak, Banten untuk tetap belajar selama masa pandemik corona. Di tengah keterbatasan akses internet dan fasilitas untuk pembelajaran belajar online tidak menyulutkan semangat mahasiswa Universitas Serang Raya (Unsera) itu untuk membantu anak-anak di kampung halamannya untuk tetap belajar.
Dia bersama pemuda di desanya membentuk kegiatan kelompok belajar bagi anak-anak SD. Mereka setiap hari melakukan pendampingan belajar para siswa yang kesulitan untuk belajar selama masa pandemik karena di wilayahnya tersebut berada di luar jaringan.
Tak hanya itu, mayoritas warga di sana berprofesi sebagai petani dan tidak mampu membeli gadget untuk sarana belajar anaknya. Kondisi itu yang mendorong Yuli bersama rekannya untuk menggagas kelompok belajar anak usia dini. Karena nasib anak yang tinggal pelosok tidak seberuntung anak-anak yang tinggal di perkotaan.
Perjuangan Yuli dan rekannya untuk membantu pendidikan anak di kampung halamannya terbilang tidak mudah. Lokasi dari rumahnya di Kampung Ciajen menuju Kampung Cicalung berjarak tiga kilometer perjalanan. Namun, Kondisi badan jalan masih tanah merah dan hanya mampu ditempuh oleh roda dua.
Akses jalan itu kian sulit untuk dilalui ketika hujan turun. Tanah menjadi becek dan penuh genangan. "Jalan setapak dan kondisinya tanah merah itu yang sulit bagi kami jika ingin melakukan kegiatan," tuturnya.
Mereka menggelar tikar di perkebunan warga untuk belajar bersama. Disela-sela pembelajaran pelajaran-pelajaran sekolah, mereka pun memberikan edukasi budaya literasi kepada anak-anak tersebut.
Kegiatan literasi juga dilakukan Taman Baca Masyarakat (TBM) Kolong. Ini adalah pusat belajar dan perpustakaan kecil yang berlokasi di kolong jalan layang di wilayah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Di TBM Kolong ini, beragam buku bacaan secara gratis dan terbuka untuk umum disuguhkan. Melihat lokasinya yang persis di tengah keramaian Pasar Ciputat dan jalan raya, tempat ini seakan oase ilmu di tengah hiruk-pikuk dan riuh deru pasar, mesin, dan manusia.
Salah satu pengelola TBM Kolong, Victoria, menyebut berdirinya tempat ini dimulai tahun 2016. Kala itu, ada keinginan para anak muda berasal dari beberapa komunitas ingin melakukan penghijauan kolong jembatan layang itu.
"Kemudian setelah banyak komunitas yang masuk. Akhirnya inisiasi dibangunnya TBM dilakukan oleh Fisip mengajar. Fisip mengajar ini salah satu unit kegiatan mahasiswa di UIN Jakarta, yang punya program mengajar dan literasi, Fisip mengajar dan OI Tangsel bergabung terbentuklah TBM Kolong," kata Victoria kepada IDN Times, Jumat (23/10/2020).
Selain menyediakan buku bacaan gratis, pengelola dan relawan di TBM Kolong juga memberikan materi-materi pembelajaran terhadap anak didik mereka yang jumlahnya ratusan. "Untuk anak didiknya sekitar 150 anak dan pengelola. Untuk pengurus, pengajar dan relawan sekitar 50 orang," kata dia.
Sebelum ada TBM, jalan layang yang berada di Ciputat ini dipenuhi oleh sampah dan menjadi tempat nongkrong preman pasar. Gak heran, pengelola taman bacaan sempat mendapat penolakan saat awal berdiri, tahun 2016.
Namun, seiring berjalan waktu, preman dan sopir angkot yang biasa menempati tempat ini akhirnya merestui keberadaan perpustakaan itu. Aura kumuh itu kemudian berangsur hilang setelah ada taman bacaan. Apalagi, para seniman lukis pun kemudian ikut menyumbangkan karya mereka dengan membuat mural di dinding dan pilar-pilar jalan layang itu. Taman bacaan itu pun kian menarik bagi anak-anak.