Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Kita Bertahan di Hubungan yang Gak Jelas? Ini Penjelasannya

Bandar Lampung
5 min read
Kenapa Kita Bertahan di Hubungan yang Gak Jelas? Ini Penjelasannya
Ilustrasi pasangan (Pexels.com/Ron Lach)
  • Seseorang bisa bertahan dalam hubungan tanpa kepastian karena berharap pasangan berubah, takut kehilangan kedekatan emosional, serta khawatir menghadapi kesepian dan memulai dari awal.
  • Perhatian yang tidak konsisten dan perasaan sudah banyak berkorban dapat memperkuat dorongan untuk bertahan, meski kebutuhan emosional serta kebahagiaan tidak terpenuhi.
  • Ketidakjelasan hubungan dapat memengaruhi harga diri; individu perlu menilai kondisi nyata, menyampaikan kebutuhan, meminta kejelasan, dan menetapkan batasan sesuai tujuan kedua pihak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa dekat dengan seseorang, tetapi gak pernah benar-benar tahu hubungan kalian akan dibawa ke mana? Komunikasi berjalan intens, perhatian terus diberikan, tetapi ketika ditanya soal kepastian, jawabannya justru menggantung.

Situasi seperti ini bisa membuat seseorang terjebak dalam hubungan tanpa status yang melelahkan secara emosional. Anehnya, meskipun sadar hubungan tersebut gak memberikan kepastian, sebagian orang tetap memilih bertahan. Lantas, kenapa hal ini bisa terjadi?

Berikut enam penjelasan psikologis yang bisa membantu kamu memahami alasan seseorang sulit meninggalkan hubungan yang gak jelas.

  1. 1. Berharap suatu hari dia akan berubah

    Ilustrasi pasangan (Pexels.com/Mikhail Nilov)
    Ilustrasi pasangan (Pexels.com/Mikhail Nilov)

    Salah satu alasan seseorang bertahan adalah keyakinan pasangannya akan berubah. Kamu mungkin berpikir kesabaran, perhatian, dan kasih sayang yang diberikan pada akhirnya akan membuat dia menyadari betapa berharganya hubungan kalian.

    Harapan tersebut membuat kamu terus memberikan kesempatan, bahkan ketika situasinya gak banyak berubah. Kamu lebih fokus pada kemungkinan hubungan menjadi serius daripada kenyataan yang sedang dihadapi.

    Padahal, perubahan dalam hubungan membutuhkan kemauan dari kedua belah pihak. Bertahan hanya karena berharap seseorang berubah bisa membuat kamu mengabaikan kebutuhan emosional sendiri.

  2. 2. Takut kehilangan seseorang yang sudah dekat

    Ilustrasi pasangan (Pexels.com/cottonbro studio)
    Ilustrasi pasangan (Pexels.com/cottonbro studio)

    Kedekatan emosional dapat membuat seseorang sulit melepaskan hubungan, meskipun statusnya gak jelas. Kamu sudah terbiasa berbagi cerita, menerima perhatian, dan menjadikan dia bagian dari rutinitas sehari-hari.

    Ketika membayangkan harus kehilangan semua itu, muncul rasa takut dan kesepian. Akhirnya, mempertahankan hubungan yang gak pasti terasa lebih nyaman daripada menghadapi kenyataan kamu mungkin harus memulai semuanya dari awal.

    Dalam psikologi, kecenderungan ini dapat berkaitan dengan loss aversion, yaitu kecenderungan untuk lebih menghindari kehilangan daripada mengejar keuntungan yang sebanding.

    Akibatnya, kamu mungkin memilih bertahan dalam situasi yang gak membahagiakan hanya karena takut kehilangan kedekatan yang sudah terbangun.

  3. 3. Terjebak dalam pola perhatian yang tidak konsisten

    Ilustrasi pasangan (Pexels.com/cottonbro studio)
    Ilustrasi pasangan (Pexels.com/cottonbro studio)

    Pernah merasa dia sangat perhatian hari ini, tetapi tiba-tiba bersikap dingin keesokan harinya? Pola perhatian yang berubah-ubah seperti ini bisa membuat seseorang semakin sulit melepaskan hubungan.

    Ketika dia kembali memberikan perhatian setelah sekian lama bersikap dingin, kamu mungkin merasa lega dan kembali berharap. Momen tersebut membuat kamu berpikir bahwa hubungan kalian masih memiliki peluang untuk berkembang.

    Pola ini berkaitan dengan konsep intermittent reinforcement, yaitu ketika suatu respons atau hadiah diberikan secara tidak konsisten. Dalam kondisi tertentu, pola penguatan seperti ini dapat membuat perilaku bertahan lebih sulit dihentikan.

    Kamu akhirnya terus menunggu momen ketika dia kembali bersikap manis, meskipun harus melewati banyak ketidakpastian.

  4. 4. Merasa sudah terlalu banyak berkorban

    ilustrasi pasangan (pexels.com/Ulyana Tim)
    ilustrasi pasangan (pexels.com/Ulyana Tim)

    Semakin lama menjalani hubungan, semakin banyak waktu, tenaga, perhatian, dan perasaan yang sudah kamu investasikan. Kamu mungkin merasa sayang jika semua pengorbanan itu harus berakhir begitu saja.

    Pikiran seperti, "Aku sudah bertahan selama ini, masa harus menyerah sekarang?" bisa membuat kamu terus melanjutkan hubungan meskipun kebutuhanmu gak terpenuhi.

    Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan sunk cost fallacy, yaitu kecenderungan untuk terus mempertahankan sesuatu karena merasa sudah terlanjur menginvestasikan banyak sumber daya di dalamnya.

    Padahal, waktu dan tenaga yang sudah diberikan gak menjamin hubungan akan menjadi lebih baik. Kamu tetap berhak mengevaluasi apakah hubungan tersebut masih layak dipertahankan berdasarkan kondisi saat ini.

  5. 5. Takut kesepian dan sulit memulai lagi

    ilustrasi pasangan (pexels.com/Kenneth Surillo)
    ilustrasi pasangan (pexels.com/Kenneth Surillo)

    Bagi sebagian orang, meninggalkan hubungan yang gak jelas berarti harus menghadapi kesepian. Gak ada lagi pesan selamat pagi, teman berbagi cerita, atau seseorang yang bisa dihubungi ketika sedang mengalami hari buruk.

    Ketakutan ini bisa semakin kuat jika kamu merasa sulit menemukan orang baru atau khawatir gak akan mendapatkan kedekatan emosional yang sama. Akhirnya, kamu memilih bertahan bukan karena benar-benar bahagia, melainkan karena takut menghadapi kehidupan tanpa dirinya.

    Padahal, kesepian setelah mengakhiri hubungan belum tentu berlangsung selamanya. Memberikan waktu untuk diri sendiri, memperkuat hubungan dengan teman dan keluarga, serta membangun kembali rutinitas dapat membantu kamu menjalani masa transisi dengan lebih sehat.

  6. 6. Mengaitkan kepastian dengan harga diri

    ilustrasi pasangan (freepik.com/prostooleh)
    ilustrasi pasangan (freepik.com/prostooleh)

    Ketika seseorang terus memberikan sinyal yang membingungkan, kamu mungkin mulai mempertanyakan diri sendiri. Kamu bertanya-tanya apakah dirimu kurang menarik, kurang perhatian, atau belum cukup baik untuk mendapatkan kepastian.

    Tanpa disadari, hubungan tersebut berubah menjadi usaha untuk membuktikan bahwa kamu layak dipilih. Kamu terus memberikan perhatian dengan harapan suatu hari dia akan mengakui perasaanmu.

    Ketika harapan itu gak terpenuhi, kamu justru semakin berusaha mendapatkan pengakuannya. Padahal, keputusan seseorang untuk menjalin hubungan serius gak menentukan nilai dirimu. Kamu tetap berharga, terlepas dari apakah seseorang memilih untuk berkomitmen atau tidak.

    Daripada terus berusaha membuktikan diri, cobalah mengevaluasi apakah hubungan tersebut memberikan rasa aman, penghargaan, dan kejelasan yang kamu butuhkan.

    Bertahan dalam hubungan yang gak jelas bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, mulai dari harapan pasangan akan berubah, ketakutan akan kehilangan, hingga perasaan sudah terlalu banyak berkorban.

    Namun, memahami alasan di balik perilaku tersebut dapat membantu kamu mengambil keputusan dengan lebih sadar. Cobalah melihat hubungan berdasarkan kenyataan yang terjadi, bukan hanya potensi yang kamu harapkan.

    Kamu juga berhak menyampaikan kebutuhan, meminta kejelasan, dan menentukan batasan dalam hubungan. Jika kedua pihak menginginkan hal yang berbeda, kamu gak harus terus bertahan hanya demi mempertahankan kedekatan.

    Sebab, menyayangi seseorang bukan berarti harus mengorbankan ketenangan diri sendiri. Hubungan yang sehat bukan hanya tentang seberapa kuat kamu bertahan, tetapi juga tentang bagaimana kedua pihak saling menghargai dan memiliki tujuan yang sejalan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More