Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG_20260203_134951.jpg
Penampakan jembatan mangkrak di Sungai Way Bungur, Lampung Timur. (Dok. IDN Times).

Intinya sih...

  • Anak sekolah menjadi kelompok paling rentan

  • Jembatan bukan sekadar bangunan fisik

  • Kritik publik sinyal awal masalah struktural

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Lampung Timur, IDN Times - Rekaman video puluhan pelajar menyeberangi Sungai Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur menggunakan perahu kayu untuk berangkat sekolah menuai perhatian serius Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Lampung.

Pembina MTI Wilayah Lampung, Aditya Mahatidanar mengatakan, kondisi tersebut dinilai bukan sekadar persoalan polemik komunikasi antara warga dan pejabat publik, melainkan alarm kegagalan negara dalam menjamin keselamatan transportasi bagi masyarakat.

“Dari perspektif transportasi, ini adalah persoalan keselamatan serius. Warga dipaksa menyeberangi sungai dengan perahu kayu, bahkan sambil membawa sepeda motor. Ini jelas tidak memenuhi standar keselamatan dan sangat membahayakan,” ujarnya dimintai keterangan, Selasa (3/2/2026).

1. Anak sekolah jadi kelompok paling rentan

Tangkap layar unggahan akun Tiktok @president_angler_liar. (Instagram/@@president_angler_liar).

Aditya menegaskan, ketiadaan jembatan layak di Desa Kali Pasir, Way Bungur, Lampung Timur ini telah memaksa para warga, termasuk anak-anak sekolah menempuh akses transportasi yang sangat berisiko setiap harinya.

Kondisi ini berdampak langsung pada kelompok rentan, terutama para siswa sekolah yang setiap hari harus menyeberangi sungai demi mengakses pendidikan. Risiko kecelakaan disebut menjadi ancaman nyata yang terus berulang.

“Anak-anak sekolah seharusnya mendapatkan akses yang aman dan layak. Ketika mereka harus menyeberang sungai dengan perahu sederhana, itu menunjukkan ada kegagalan sistemik dalam penyediaan infrastruktur dasar,” tegasnya.

2. Jembatan bukan sekadar bangunan fisik

Penampakan jembatan mangkrak di Sungai Way Bungur, Lampung Timur. (Dok. IDN Times).

Menurut MTI Wilayah Lampung, keberadaan jembatan dalam sistem transportasi wilayah merupakan simpul konektivitas penting yang menentukan akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Oleh karena itu, terbengkalainya jembatan Sungai Way Bungur dinilai telah menciptakan ketimpangan akses nyata dan memperparah kondisi transport poverty.

“Ketika infrastruktur transportasi tidak berfungsi, masyarakat kehilangan kesempatan bergerak secara aman. Dampaknya bukan hanya soal keselamatan, tapi juga kualitas hidup dan produktivitas wilayah,” jelasnya.

3. Kritik publik sinyal awal masalah struktural

Tangkap layar unggahan akun Tiktok @president_angler_liar. (Instagram/@@president_angler_liar).

Aditya menegaskan, kritik dan keluhan warga belakang viral di media sosial (Medsos) sejatinya dapat dipahami sebagai mekanisme koreksi dalam tata kelola pemerintahan, bukan dianggap sebagai ancaman atau polemik narasi semata.

“Dalam transportasi modern, suara warga adalah early warning system. Fokusnya harus pada substansi persoalan dan solusi konkret, bukan sekadar klarifikasi atau pembelaan,” tegasnya.

4. Desak evaluasi menyeluruh pembangunan jembatan

Tangkap laya

Berkaca dari kasus jembatan mangkrak di Sungai Way Bungur, Aditya menambahkan, pemerintah daerah setempat membutuhkan evaluasi menyeluruh terhadap perencanaan dan pelaksanaan pembangunan jembatan.

Termasuk kejelasan kewenangan antara pemerintah kabupaten dan provinsi, konsistensi penganggaran, hingga transparansi progres pekerjaan. “Infrastruktur transportasi tidak boleh terjebak dalam tarik-menarik administrasi, karena yang dipertaruhkan adalah keselamatan publik,” ucapnya.

Selain itu, MTI Wilayah Lampung menegaskan, masyarakat juga tidak membutuhkan pernyataan semata, melainkan kehadiran nyata negara dalam bentuk infrastruktur berfungsi, aman, dan berkeadilan. “Pembangunan transportasi bukan soal citra, tapi soal nyawa dan hak dasar warga,” imbuh dosen Universitas Bandar Lampung (UBL) tersebut.

Editorial Team