Bandar Lampung, IDN Times -
Universitas Lampung (Unila) berduka atas wafatnya salah satu putra terbaiknya, Nanang Trenggono, dosen senior Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unila. Almarhum meninggal dunia, Rabu, 21 Januari 2026 pukul 17.00 WIB di Rumah Sakit Imanuel, Bandar Lampung, setelah menjalani perawatan akibat sakit yang dideritanya.
Bagi sivitas akademika Unila, kepergian Nanang bukan sekadar kehilangan seorang dosen, tetapi juga figur akademisi sejati yang menjalankan tridarma perguruan tinggi secara utuh—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Pak Nanang adalah akademisi sejati. Beliau menjalankan tridarma perguruan tinggi secara penuh dan penuh dedikasi,” ujar Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unila, Ayi Ahadiat, mengenang almarhum.
Jejak Pengabdian Nanang Trenggono di Unila dan Ruang Publik

Intinya sih...
Jejak Nanang Trenggono dalam pendidikan dan penelitian
Pak Nanang dikenal tekun dan penuh perhatian dalam mengajar dan membimbing mahasiswa
Kontribusi penelitiannya pada ilmu komunikasi dan politik menjadi rujukan kebijakan publik
Figur panutan di kampus dan ruang publik
Nanang terlibat dalam regenerasi kepemimpinan di Provinsi Lampung
Kepakarannya di bidang komunikasi politik membuatnya dihormati lintas generasi kepemimpinan
Kontribusi almarhum bagi Unila
1. Jejak Nanang Trenggono dalam pendidikan dan penelitian
Menurut Ayi, sebagai pendidik, Nanang dikenal tekun dan penuh perhatian. Ia tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga membimbing mahasiswa dari jenjang S-1 hingga S-3 dengan kesabaran dan ketelatenan.
Banyak alumni yang kini menempati posisi strategis di berbagai bidang, tak lepas dari peran almarhum dalam mendampingi proses akademik mereka.
Ayi menceritakan, di bidang penelitian, kontribusi Nanang juga tak kalah menonjol. Fokus kajiannya pada ilmu komunikasi dan politik melahirkan berbagai karya ilmiah yang tak hanya memperkaya khazanah keilmuan, tetapi juga menjadi rujukan dalam pengambilan kebijakan publik, baik di tingkat daerah maupun nasional.
"Komitmen almarhum terhadap pengabdian masyarakat tercermin dari kiprahnya yang aktif menjalin relasi dengan berbagai pemangku kepentingan," ujarnya.
2. Figur panutan di kampus dan ruang publik
Ayi mengatakan, almarhum juga terlibat langsung dalam proses regenerasi kepemimpinan di Provinsi Lampung, baik melalui jalur akademik maupun kelembagaan. Rekam jejaknya sebagai Komisioner KPU Provinsi Lampung periode 2008–2013 serta Ketua KPU Lampung selama dua periode berturut-turut (2012–2014 dan 2014–2019) menjadikan Nanang sebagai figur yang dihormati dan dipercaya lintas generasi kepemimpinan, mulai dari gubernur, wali kota, hingga bupati.
Kepakarannya di bidang komunikasi politik mengantarkan Nanang meraih gelar Doktor dari Universitas Padjadjaran pada 2009, setelah sebelumnya menyelesaikan Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia pada 1995. Nanang lahir di Purwodadi, 4 Desember 1962, dan mengabdikan diri sebagai pendidik di Unila sejak 1989 hingga akhir hayatnya. Ia menjabat sebagai Lektor Kepala di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP.
Di lingkungan Unila, lanjutnya, khususnya FISIP, Nanang dikenal sebagai figur panutan dan rujukan pemikiran. Ia kerap dimintai masukan dalam menyelesaikan persoalan institusi serta memberikan pandangan konstruktif bagi pimpinan fakultas maupun rektorat.
“Pak Nanang adalah pribadi yang ringan tangan, senang membantu, dan selalu berpikir untuk kemajuan organisasi. Beliau adalah solution provider sejati,” tutur Ayi.
Selain sebagai dosen, almarhum juga memegang peran strategis di tingkat universitas. Ia dipercaya sebagai tenaga ahli Rektor dan juru bicara Unila, khususnya dalam isu kelembagaan, komunikasi publik, dan penguatan citra institusi.
“Peran pak Nanang sangat penting dalam membangun hubungan yang sehat antara Unila dan media massa, serta merumuskan narasi kelembagaan yang kredibel dan inspiratif,” tambahnya.
3. Kontribusi almarhum bagi Unila
Kontribusi almarhum bagi Unila
Dekan FISIP Unila Anna Gustina Zainal menyebut sangat besar. Menurutnya, almarhum bukan hanya mengabdi di FISIP, tetapi juga banyak membantu rektorat, termasuk sebagai juru bicara universitas dan tenaga ahli Humas Unila.
Anna mengenang Pak Nanang sebagai pribadi yang tidak pelit ilmu dan selalu menebarkan energi positif.
“Beliau selalu mengingatkan bahwa kita bukan sekadar pengajar, tapi pendidik. Jangan pernah berkata tidak bisa atau menyerah selama masih ada peluang untuk berupaya,” kenangnya dengan haru.
"Selamat jalan, Pak Nanang. Jejak pengabdianmu akan abadi dalam sejarah Unila dan ingatan kami semua," ucap Anna.