Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG-20260126-WA0038.jpg
Almarhum Praka (Mar) Muhammad Kori. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Intinya sih...

  • Praka Kori berjanji untuk membeli rumah di Lampung bagi orang tuanya sebelum berangkat tugas ke Bandung

  • Keluarga mengenang Kori sebagai pribadi sederhana, hormat, dan tidak pernah menyusahkan orang tua

  • Kori dikenal sebagai sosok yang disiplin, taat beribadah, serta memiliki kemampuan fisik dan prestasi menonjol

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Lampung Timur, IDN Times – Kepergian Praka Mar Muhammad Kori meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Prajurit Korps Marinir TNI AL asal Lampung itu gugur saat menjalankan tugas penanganan longsor di kawasan Cisarua, Jawa Barat.

Di balik seragam loreng dan baret ungu yang dikenakannya, Kori adalah sosok anak, menantu, dan kepala keluarga yang penuh perhatian serta menyimpan mimpi besar untuk orang-orang yang dicintainya.

Bagi Samrah, sang ibu, kenangan tentang almarhum merupakan bagian dalam kehidupannya yang sulit dipisahkan. “Ingat segala-galanya,” ucapnya lirih usai menghadiri pemakaman putra tercinta di TPU Desa Kibang, Senin (26/1/2026).

1. Kori sempat janji hendak belikan orang tua rumah di Lampung

Prosesi pemakaman almarhum Praka Muhammad Kori di TPU Desa Kibang, Lampung Timur. (IDN Times/Tama Yudha. Wiguna).

Meski jarang pulang, anggota Batalyon Infanteri (Yonif) 9/Marinir ini tak pernah absen menyapa orangtuanya yang bertempat tinggal di Kota Palembang. Setiap bulan, bahkan hampir setiap minggu, Kori menyempatkan diri menelepon ibunya.

“Kalau Lebaran puasa memang enggak pulang. Tapi Lebaran Haji biasanya ke Palembang. Dia tetap sering nelepon,” kenang Samrah.

Momen perpisahan terakhir justru diwarnai janji kini tinggal harapan. Saat pamit hendak berangkat tugas ke Bandung, Kori menyampaikan rencana hidupnya. Usai pendidikan dan penugasan ke Papua nanti, ia berniat membeli rumah di Lampung dan membawa orangtuanya tinggal bersamanya.

“Nanti Ibu sama Bapak mau saya bawa ke Lampung,” tutur Samrah yang mengulang janji sang anak yang tak sempat terwujud.

2. Kori dikenal sebagai pribadi sederhana dan penuh hormat

Prosesi pemakaman almarhum Praka Muhammad Kori di TPU Desa Kibang, Lampung Timur. (IDN Times/Tama Yudha. Wiguna).

Di mata keluarga, Kori bukan hanya prajurit tangguh, tetapi juga pribadi sederhana dan penuh hormat. Kenangan itu diceritakan Dedi Suwarno, mertua almarhum yang sehari-hari tinggal serumah dengannya di Desa Kibang, Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur. “Walaupun anak menantu, sudah saya anggap anak sendiri. Enggak pernah nyusahin orang tua. Kata-kata kasar satu pun enggak pernah,” ujarnya lirih.

Kabar duka datang tanpa penjelasan panjang. Dedi mengaku awalnya hanya diminta pulang oleh sang anak merupakan istri Kori lewat sambungan telepon. Hingga akhirnya ia mengetahui menantunya telah berpulang. “Saya kerja di Lambar (Lampung Barat). Tahu-tahu pagi itu dikasih tahu kalau Nak Kori sudah enggak ada,” lanjutnya.

3. Kori juga sosok yang disiplin dan taat beribadah

Prosesi pemakaman almarhum Praka Muhammad Kori di TPU Desa Kibang, Lampung Timur. (IDN Times/Tama Yudha. Wiguna).

Dalam keseharian, Dedi mengenal baik sang menantu yang memiliki kepribadian sebagai sosok disiplin dan taat beribadah. Lebih dari itu, Kori sebagai prajurit Marinir juga dikenal memiliki kemampuan fisik dan prestasi menonjol seperti lari, renang, hingga menembak.

"Saya komunikasi terakhir di 3 Januari kemarin, waktu dia mau berangkat tugas ke Bandung. Itu saya sendiri yang mengantarkannya," imbuh dengan suara bergetar.

Editorial Team