Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Itera Rilis Film Dokumenter Nafas Krakatau dari Ekspedisi Ilmiah
Fakultas Sains Itera merilis film dokumenter berjudul Nafas Krakatau di Aula Gedung Kuliah Umum 2 Itera (Dok.Itera)
  • Itera merilis film dokumenter Nafas Krakatau hasil ekspedisi ilmiah I-SEE yang meneliti potensi sumber daya alam, mitigasi bencana, dan konservasi di kawasan Gunung Anak Krakatau.
  • Pemutaran perdana film dihadiri Rektor Itera I Nyoman Pugeg Aryantha serta berbagai pihak akademik dan instansi, yang mengapresiasi karya ini sebagai langkah maju riset kampus.
  • Gunung Anak Krakatau dinilai memiliki potensi besar untuk penelitian lintas disiplin, dengan rencana sinergi pusat mitigasi kebencanaan Itera guna memperkuat pembelajaran dan pengetahuan masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada orang-orang pintar dari kampus Itera yang pergi ke Gunung Anak Krakatau. Mereka banyak sekali, ada dosen dan mahasiswa. Mereka meneliti gunung, laut, udara, dan tumbuhan di sana. Mereka juga lihat kehidupan orang sekitar gunung. Semua itu dibuat jadi film berjudul Nafas Krakatau. Sekarang filmnya sudah ditonton banyak orang di acara kampus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Peluncuran film dokumenter *Nafas Krakatau* menunjukkan semangat kolaboratif dan dedikasi sivitas akademika Itera dalam menggabungkan riset ilmiah dengan karya visual yang edukatif. Melalui ekspedisi ini, berbagai kajian lintas disiplin—dari geologi hingga sosial-ekologis—terpadu menjadi sarana pembelajaran yang memperkaya pengetahuan tentang Gunung Anak Krakatau sekaligus memperkuat budaya penelitian di lingkungan kampus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Fakultas Sains Institut Teknologi Sumatera (Itera) merilis film dokumenter berjudul Nafas Krakatau. Film tersebut merupakan hasil ekspedisi ilmiah tim Itera Scientific Expedition and Exploration (I-SEE) yang meneliti potensi sumber daya alam di kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK).

Dokumenter ini merekam perjalanan penelitian tim ekspedisi yang terdiri dari sekitar 50 orang dosen, laboran, dan mahasiswa Itera. Penelitian tersebut didukung oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Itera dengan fokus pada tema mitigasi bencana dan konservasi di kawasan GAK.

1. Angkat berbagai kajian ilmiah di kawasan Krakatau

Fakultas Sains Itera merilis film dokumenter berjudul Nafas Krakatau di Aula Gedung Kuliah Umum 2 Itera (Dok.Itera)

Ketua Tim I-SEE 2025, Novriadi menjelaskan fokus kajian penelitian tim meliputi berbagai aspek ilmiah di kawasan Krakatau. Beberapa di antaranya mencakup penelitian gas vulkanik, kajian geologi dan terumbu karang, hingga aspek sosial-ekologis masyarakat di sekitar kawasan tersebut.

“Fokus kajian kami meliputi gas vulkanik, kajian geologi dan terumbu karang, serta aspek sosial-ekologis masyarakat di sekitar kawasan Krakatau. Sejumlah hasil penelitian masih dalam proses publikasi di jurnal ilmiah sebagai upaya memperkenalkan temuan tersebut kepada masyarakat luas,” ujar Novriadi, Rabu (11/3/2026).

Menurutnya, dalam film dokumenter ini juga ditampilkan beragam kajian ilmiah lain seperti penelitian atmosfer, tumbuhan pionir pascaerupsi, analisis kualitas air dan permukaan tanah vulkanik, pemetaan batimetri perairan, hingga pengamatan kondisi lingkungan bawah laut dan aktivitas spons laut.

Selain itu, film tersebut turut menampilkan dinamika sosial masyarakat di sekitar GAK serta referensi karya sastra pribumi Lampung yang menggambarkan kondisi masyarakat Kalianda saat peristiwa letusan Krakatau. "Dokumenter ini juga mengabadikan momen langka berupa gerhana bulan total yang berhasil direkam tim ekspedisi selama kegiatan penelitian berlangsung," ujarnya.

2. Dihadiri langsung rektor Itera

Fakultas Sains Itera merilis film dokumenter berjudul Nafas Krakatau di Aula Gedung Kuliah Umum 2 Itera (Dok.Itera)

Pemutaran perdana film dokumenter Nafas Krakatau dihadiri langsung oleh Rektor Itera I Nyoman Pugeg Aryantha. Acara tersebut juga dihadiri dosen dan sivitas akademika Itera serta perwakilan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah Bengkulu dan Lampung dan Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara Lampung.

Pugeg menyampaikan apresiasi atas karya dokumenter tersebut yang dinilai menjadi capaian penting bagi perkembangan riset di Itera.

“Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, progres penelitian dan produksi film ini sangat baik dan layak untuk terus dikembangkan. Saat ini belum banyak perguruan tinggi yang memiliki agenda ekspedisi ilmiah secara khusus ke Gunung Anak Krakatau,” kata rektor.

3. GAK dinilai memiliki potensi besar untuk penelitian

Fakultas Sains Itera merilis film dokumenter berjudul Nafas Krakatau di Aula Gedung Kuliah Umum 2 Itera (Dok.Itera)

Rektor menambahkan, GAK merupakan pulau vulkanik yang terus tumbuh dan memiliki potensi besar untuk dikaji dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurutnya, penelitian langsung mengenai aktivitas dan dampak letusan gunung tersebut masih tergolong terbatas.

Ia juga menilai keberadaan pusat mitigasi kebencanaan di Itera dapat disinergikan dengan kegiatan penelitian seperti ini, sehingga mampu memberikan kontribusi dalam pembelajaran mahasiswa sekaligus meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait antisipasi bencana.

Sementara itu, Dekan Fakultas Sains Itera, Ikah Ning P Permanasari menjelaskan gagasan ekspedisi ini terinspirasi dari Sakurajima Volcano Observatory di Kyoto, Jepang, yang menjadi pusat penelitian Gunung Sakurajima.

“Dari segi posisi dan karakteristik, Gunung Sakurajima memiliki kemiripan dengan kondisi di Lampung yang memiliki Gunung Anak Krakatau. Saat ini data terbaru mengenai aktivitas Anak Krakatau masih terbatas, sehingga Fakultas Sains berupaya melakukan kajian untuk menggali potensi keilmuan dari gunung tersebut,” ujar Ikah.

Editorial Team