Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Itera Pegang Estafet PIT Kebencanaan, Siap jadi Pusat Riset Bencana
Institut Teknologi Sumatra (Itera) (IDN Times/Istimewa)
  • Itera resmi menerima estafet Pataka IABI dan ditunjuk sebagai tuan rumah PIT Kebencanaan ke-10, menegaskan perannya sebagai pusat riset kebencanaan nasional yang kolaboratif dan berbasis data.
  • Tantangan kebencanaan Indonesia makin kompleks akibat perubahan iklim, urbanisasi cepat, serta degradasi lingkungan, sehingga dibutuhkan tata kelola risiko lintas disiplin dan forum ilmiah berkelanjutan seperti PIT.
  • Itera berkomitmen menjadikan PIT ke-10 sebagai ajang akselerasi riset berbasis teknologi dan keterlibatan pemerintah daerah, komunitas lokal, serta industri dalam membangun ketangguhan bencana nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lampung Selatan, IDN Times - Rektor Institut Teknologi Sumatera (Itera), I Nyoman Pugeg Aryantha, resmi menerima estafet Pataka Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) dalam penutupan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Kebencanaan ke-9 diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), beberapa waktu lalu.

Penyerahan simbolik ini menandai kesiapan Itera sebagai tuan rumah penyelenggaraan PIT ke-10, sekaligus mempertegas posisi strategisnya dalam lanskap riset kebencanaan nasional.

Momentum serah terima Pataka tersebut menjadi penanda penting dalam kesinambungan forum ilmiah kebencanaan Indonesia yang sejak 2014 berfungsi sebagai wadah konsolidasi epistemik, pertukaran pengetahuan, serta penguatan jejaring antar-aktor kebencanaan lintas sektor.

Kegiatan PIT ke-9 bertajuk “Penguatan Tata Kelola Risiko Bencana untuk Ketangguhan (Strengthening Disaster Risk Governance for Resilience)”, itu juga sekaligus merefleksikan urgensi transformasi paradigma dari pendekatan reaktif menuju risk-informed development yang lebih integratif dan adaptif  .

1. Itera siap perkuat sistem riset bencana

Rektor ITERA, I Nyoman Pugeg Aryantha. (IDN Times/Istimewa)

Pugeg mengatakan, dalam konteks tersebut, penunjukan Itera sebagai tuan rumah berikutnya tidak semata bersifat seremonial. Melainkan mengandung mandat strategis untuk mendorong orkestrasi riset kebencanaan yang lebih terkoordinasi, kolaboratif, dan berbasis data.

Hal ini sejalan dengan temuan dalam forum PIT ke-9 yang menyoroti masih adanya kesenjangan implementasi antara kerangka kebijakan global seperti Sendai Framework for Disaster Risk Reduction (2015–2030) dengan praktik di tingkat nasional dan lokal. Khususnya dalam aspek integrasi data risiko, interoperabilitas sistem peringatan dini, serta konektivitas antara informasi risiko dan kapasitas respons masyarakat

Menurutnya, diterimanya estafet Pataka ini, Itera diharapkan tidak hanya menjadi tuan rumah secara administratif, tetapi juga berperan sebagai knowledge hub baru dalam ekosistem riset kebencanaan Indonesia.

"Ke depan, penyelenggaraan PIT ke-10 di ITERA diproyeksikan menjadi momentum strategis untuk memperkuat arah kebijakan riset kebencanaan nasional yang lebih terintegrasi, inklusif, dan berorientasi pada ketangguhan jangka panjang," ujarnya. 

2. Tantangan kebencanaan Indonesia semakin kompleks

ilustrasi bencana alam (pexels.com/Faruk Tokluoğlu)

Ketua Umum IABI yang juga sekaligus Kepala Pusat Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami Itera, Harkunti Pertiwi menyampaikan terkait tantangan kebencanaan Indonesia semakin kompleks akibat interaksi antara faktor alam dan antropogenik, sehingga memerlukan pendekatan tata kelola yang sistemik dan lintas disiplin.

Menurutnya, Indonesia sebagai multi-hazard hotspot menghadapi tekanan risiko yang tidak hanya meningkat secara kuantitatif, tetapi juga mengalami transformasi kualitatif akibat perubahan iklim, urbanisasi cepat, dan degradasi lingkungan.

"Sebab itu, keberadaan forum PIT dan keberlanjutannya menjadi krusial dalam membangun knowledge ecosystem kebencanaan yang mampu menjembatani riset, kebijakan, dan praktik," katanya.

3. Itera berencana memperkuat keterlibatan pemerintah daerah, komunitas lokal, serta sektor industri

Ilustrasi longsor (IDN Times/Sukma Shakti)

Delegasi Itera yang hadir dalam kegiatan ini, Muhammad Zainal Ibad Adnin Musadri Asbi, menyampaikan komitmennya untuk menjadikan PIT ke-10 sebagai platform akselerasi riset kebencanaan berbasis inovasi teknologi dan pendekatan transdisipliner. Termasuk integrasi kecerdasan buatan, pemodelan risiko spasial, serta pendekatan complex system dalam sistem sosial-kebencanaan.

Selain itu, Itera juga berencana memperkuat keterlibatan pemerintah daerah, komunitas lokal, serta sektor industri dalam kerangka collaborative governance for resilience. PIT ke-9 IABI sendiri dihadiri oleh sekitar 600 peserta. Itu terdiri dari akademisi, peneliti, praktisi, birokrat, serta masyarakat umum, dan menghadirkan berbagai sesi strategis seperti knowledge sharing, seminar paralel, hingga perumusan rekomendasi kebijakan kebencanaan nasional.

Rangkaian kegiatan ini menghasilkan berbagai rekomendasi penting, khususnya terkait penguatan sistem peringatan dini multi-bahaya (multi-hazard early warning system), peningkatan literasi risiko masyarakat, serta integrasi pengurangan risiko bencana dalam siklus pembangunan nasional.

Editorial Team