Illustrasi Lelaki Depresi (Pexel/Andrea Piacquadio)
Cerita lainnya datang dari Alfani Pratama, seorang Ads Specialist yang terbiasa memendam perasaan. Sebagai anak pertama sekaligus cucu pertama dari pihak ayah, ia merasa mendapat tekanan tersendiri dalam keluarga.
"Paling bikin sakit hati tuh kalau punya masalah tapi dibilang ‘kamu tuh gak bisa apa-apa’, rasanya kayak diragukan sama orang terdekat. Itu bikin makin down," ucap Alfani kepada IDN Times.
Meski begitu, ia punya satu tempat paling aman untuk bercerita, yaitu ibu. Bukan cuma tempat mencurahkan isi hati, menurutnya ibu membawa "hal magic".
"Setiap cerita ke ibu, gak tahu kenapa kayak selalu ada jalan keluar. Mungkin karena didoain ya. Jadi gak cuma lega karena bisa curhat, tapi juga ngerasa dilindungi," katanya.
Namun, diluar ibu, Alfani cenderung enggan terbuka. Ia takut ceritanya justru jadi beban orang lain, disalahpahami, bahkan disebarkan.
"Makanya milih-milih banget kalau mau cerita. Kadang juga nyesel setelah cerita, takut dibilang lebay. Jadi akhirnya pelariannya main game atau muter-muter naik motor biar pikiran tenang," ujarnya.
Dia juga mengungkap harapan sederhana saat menghadapi masalah, yakni dukungan yang empatik, bukan kompetisi luka.
"Jangan malah adu nasib. Biarkan orang melepas stres dengan caranya sendiri. Kalau saya ya cukup main game secukupnya aja," katanya sambil tertawa.
Sebagai pribadi yang mandiri, Alfani mengaku sering mengambil keputusan sendiri, kecuali jika menyangkut risiko besar, baru dia diskusi dengan istri atau orang tua. Ia juga mengakui bahwa pola komunikasi dengan orangtua tidak selalu ideal, terutama soal pekerjaan.
“Saya udah kerja WFH dari 2020 sampai sekarang, tapi orang tua masih sering nyuruh daftar ASN atau PPPK. Diomelin karena dianggap kerjaan saya gak pasti. Padahal kerja WFH tuh bukan berarti nganggur, jam kerja sama aja,” ceritanya.
Meski sering diminta ikut seleksi pekerjaan ‘pasti’, Alfani tetap mencoba menuruti sebisanya. Menurutnya itu sebagai bentuk kepedulian orang tua pada anaknya.
"Cuma ya dijalani semampunya, karena waktu dan energi saya juga terbatas," katanya.
Dukungan orang tua menurutnya penting, terutama dalam bentuk masukan dan pengalaman. Ia percaya orang tuanya lebih banyak makan asam garam.
"Jadi biasanya saya minta mereka jelaskan risiko dan peluang, supaya saya bisa ukur langkah saya juga," kata Alfanny.