Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Eva Dwiana Semprot BBWS, Pemprov Minta Penanganan Banjir Kolaboratif
Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana saat rapat bersama Pemprov Lampung dan BBWS. (IDN Times/Muhaimin)
  • Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana menegur BBWS Mesuji–Sekampung karena dianggap lamban menangani sungai yang memicu banjir, meski Pemkot siap membantu pembiayaan agar penanganan segera dilakukan.
  • Pemprov Lampung menegaskan banjir bukan tanggung jawab satu daerah saja, melainkan persoalan bersama yang perlu ditangani lintas wilayah secara kolaboratif dari hulu hingga hilir.
  • BBWS Mesuji–Sekampung merencanakan normalisasi sungai, peninggian tanggul, serta penyusunan master plan dan pembangunan kolam retensi untuk solusi jangka panjang pengendalian banjir di Bandar Lampung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
6 Maret 2026

Banjir melanda 44 titik di 11 kecamatan di Bandar Lampung, berdampak pada 939 kepala keluarga dan menyebabkan dua warga meninggal dunia.

9 Maret 2026

Rapat koordinasi lintas instansi digelar di Kantor Gubernur Lampung membahas penanganan banjir. Dalam rapat ini, Wali Kota Eva Dwiana mengkritik BBWS Mesuji–Sekampung atas lambannya penanganan sungai yang dinilai memicu banjir.

kini

Pemerintah Provinsi Lampung mendorong kolaborasi lintas pihak dalam penanganan banjir, sementara BBWS menyiapkan langkah normalisasi sungai dan penyusunan master plan jangka panjang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Rapat koordinasi lintas instansi digelar untuk membahas penanganan banjir di Kota Bandar Lampung, setelah banjir melanda 44 titik dan menimbulkan korban jiwa serta kerusakan di sejumlah wilayah.
  • Who?
    Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana, BBWS Mesuji–Sekampung, Pemerintah Provinsi Lampung, DPR RI, DPRD, serta perwakilan pemerintah daerah sekitar turut hadir dalam rapat tersebut.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di Kantor Gubernur Lampung, dengan pembahasan difokuskan pada kondisi sungai dan wilayah terdampak banjir di Kota Bandar Lampung dan sekitarnya.
  • When?
    Rapat dilaksanakan pada Senin, 9 Maret 2026, beberapa hari setelah banjir terjadi pada Jumat, 6 Maret 2026.
  • Why?
    Pertemuan dilakukan karena lambannya penanganan sungai yang dinilai memperparah banjir. Pemerintah daerah meminta kolaborasi antarinstansi agar solusi tidak bersifat parsial dan saling menyalahkan.
  • How?
    Pemerintah kota mengerahkan satgas dari berbagai dinas untuk menangani dampak banjir. BBWS merencanakan normalisasi sungai, peninggian tanggul, penataan sempadan, serta penyusunan master plan jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di Lampung ada banjir besar dan banyak rumah kena air. Bu Eva, wali kota, marah ke orang dari balai sungai karena kerja mereka lambat. Katanya sungai itu tanggung jawab balai, bukan kota. Banyak pejabat rapat bareng supaya kerja sama atasi banjir. Sekarang mereka mau bersihkan sungai dan bikin rencana biar banjir gak datang lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times – Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana meluapkan kekesalannya kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji–Sekampung terkait penanganan sungai yang dinilai lamban dan turut memicu banjir di kota setempat.

Kritik tersebut disampaikan Eva dalam rapat koordinasi penanganan banjir lintas instansi di Kantor Gubernur Lampung, Senin (9/3/2026). Rapat difasilitasi Pemerintah Provinsi Lampung dan dihadiri perwakilan pemerintah pusat, DPR RI, DPRD, hingga pemerintah daerah sekitar.

Dalam forum tersebut, Eva menegaskan persoalan sungai dan irigasi bukan kewenangan pemerintah daerah, melainkan berada di bawah tanggung jawab balai sungai. “Yang namanya sungai, kali, dan irigasi di kota maupun kabupaten itu bukan kewenangan daerah, tapi kewenangan balai,” tegasnya.

1. Berulang kali datangi BBWS

Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana saat rapat bersama Pemprov Lampung dan BBWS. (IDN Times/Muhaimin)

Eva mengaku telah beberapa kali mendatangi kantor BBWS untuk membahas persoalan banjir. Namun hingga kini, menurutnya, penanganan sejumlah sungai yang berpotensi menyebabkan banjir belum berjalan maksimal.

“Saya sudah beberapa kali datang langsung ke Balai. Bahkan sebulan atau dua bulan lalu saya juga bertemu dengan Kepala Balainya,” ujar Eva.

Menurutnya, Pemerintah Kota Bandar Lampung bahkan siap membantu dari sisi pembiayaan agar penanganan sungai bisa segera dilakukan.

“Saya pernah bilang, kami siap menyiapkan dananya, tapi tolong dibantu. Karena yang tahu kondisi sungai itu Balai,” katanya.

2. Tidak menyudutkan satu daerah

Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana saat meninjau lokasi yang terkena banjir. (IDN Times/Muhaimin)

Eva juga menilai persoalan banjir tidak seharusnya hanya diarahkan kepada Pemerintah Kota Bandar Lampung. Ia menegaskan sejumlah daerah lain di Provinsi Lampung juga memiliki persoalan serupa.

“Kenapa cuma satu daerah yang disudutkan? Harusnya semua duduk bersama karena ini bukan hanya masalah satu daerah,” ujarnya.

Meski demikian, Eva menyebut Pemkot Bandar Lampung tetap mengerahkan berbagai organisasi perangkat daerah untuk menangani dampak banjir, mulai dari Dinas Lingkungan Hidup, BPBD, Satpol PP, hingga Dinas PU.

“Kita punya satgas dari Lingkungan Hidup, Perhubungan, Satpol PP, BPBD, dan PU. Semua turun ke lapangan siang dan malam,” katanya.

3. Banjir bukan masalah satu daerah

Sekda Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan. (IDN Times/Muhaimin)

Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, mengatakan rapat tersebut digelar atas arahan Gubernur Lampung untuk mempertemukan seluruh pihak yang berkaitan dengan penanganan banjir di Bandar Lampung.

Menurutnya, persoalan banjir tidak bisa dilihat sebagai masalah satu pemerintah daerah saja, melainkan berkaitan dengan wilayah sekitar.

“Permasalahan banjir ini bukan hanya masalah satu daerah, bukan hanya wali kota atau kabupaten tertentu. Ini menjadi masalah bersama bagi Provinsi Lampung,” ujarnya.

Ia menambahkan, penanganan banjir harus dilakukan secara menyeluruh dari wilayah hulu hingga hilir dan melibatkan semua pihak.

“Penanganannya harus komprehensif dari hulu sampai hilir dan dilakukan secara kolaboratif. Tidak bisa saling menyalahkan karena semua punya peran,” jelasnya.

4. Balai sungai dorong normalisasi hingga kolam retensi

Pemukiman warga yang terendam banjir di Bandar Lampung. (IDN Times/Muhaimin)

Kepala BBWS Mesuji Sekampung Elroy Koyari menyebut, normalisasi sungai menjadi langkah jangka pendek yang mendesak untuk mengurangi risiko banjir di Bandar Lampung.

Menurutnya, kapasitas sejumlah sungai saat ini sudah tidak mampu menampung debit air ketika hujan deras karena mengalami pendangkalan.

“Sebagian besar sungai kapasitasnya sudah tidak sesuai. Selain normalisasi sungai, juga perlu peninggian tanggul karena banyak tanggul yang elevasinya sudah rendah,” ujarnya.

Selain itu, penataan sempadan sungai juga dinilai penting karena masih banyak rumah warga berdiri terlalu dekat dengan aliran sungai sehingga menyulitkan proses pembersihan.

5. Dorong master plan

Potret udara bencana banjir menggenangi wilayah Kota Bandar Lampung, Jumat (6/3/2026). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Dalam jangka panjang, BBWS juga mendorong penyusunan master plan penanganan banjir di Bandar Lampung agar penanganannya tidak lagi dilakukan secara parsial.

“Yang paling penting sebenarnya master plan banjir ini belum ada. Kalau sudah ada, kita tahu langkah apa yang harus dilakukan secara menyeluruh,” kata Elroy.

Salah satu opsi yang akan dikaji dalam rencana jangka panjang adalah pembangunan kolam retensi di wilayah hulu untuk menahan aliran air sebelum masuk ke kawasan perkotaan.

Diketahui rapat koordinasi ini digelar setelah banjir melanda 44 titik di 11 kecamatan di Bandar Lampung, Jumat (6/3/2026) berdampak pada 939 kepala keluarga, dan menyebabkan dua warga meninggal dunia.

Editorial Team