Bandar Lampung, IDN Times - Banjir di kota-kota besar sering dianggap takdir musiman. Seperti hujan turun, air naik, warga mengeluh, lalu semuanya berlalu. Padahal, akar masalahnya bukan sekadar curah hujan tinggi, melainkan tata ruang yang salah arah dan pembangunan yang makin menekan ruang hidup alam.
Isu ini disoroti dosen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Institut Teknologi Sumatera (Itera), Dwi Bayu Prasetya. Dia menegaskan, tanpa perencanaan ruang yang kuat dan penegakan hukum yang tegas, banjir akan terus menjadi “langganan” yang dibayar mahal oleh masyarakat.
