Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi bencana longsor, IDN Times/ istimewa
ilustrasi bencana longsor. (IDN Times)

Intinya sih...

  • Kabupaten Way Kanan memiliki indikator kesiapsiagaan bencana cukup lengkap

  • Kota Bandar Lampung sudah memiliki indikator kesiapsiagaan bencana cukup tinggi

  • Kabupaten Pesawaran sudah memiliki indikator tanggap bencana terbanyak di Provinsi Lampung

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Gelombang banjir bandang melanda wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat beberapa waktu terakhir menjadi pengingat kuat bahwa bencana alam dapat datang tiba-tiba dan membawa dampak besar bagi masyarakat. Peristiwa tersebut tidak hanya merusak infrastruktur dan permukiman, tetapi juga menuntut pemerintah di daerah lain untuk lebih peka terhadap potensi bencana di wilayahnya masing-masing. Salah satu langkah penting harus diperkuat adalah kesiapsiagaan melalui program tanggap bencana agar risiko korban jiwa dan kerugian dapat ditekan seminimal mungkin.

Tanggap bencana sendiri merupakan upaya sistematis dilakukan pemerintah bersama masyarakat untuk mengantisipasi, merespons, dan memulihkan kondisi saat terjadi bencana. Dalam praktiknya, tanggap bencana tidak hanya sekadar evakuasi ketika bencana datang, tetapi mencakup berbagai persiapan sejak dini. Indikatornya antara lain keberadaan sistem peringatan dini bencana alam, peringatan dini tsunami, ketersediaan perlengkapan keselamatan, pemasangan rambu-rambu serta jalur evakuasi, hingga pembuatan, perawatan, atau normalisasi sungai, kanal, dan tanggul sebagai pengendali banjir dan limpasan air.

Berdasarkan data BPS Lampung tahun 2025, sejumlah daerah di Provinsi Lampung telah menerapkan berbagai indikator tanggap bencana tersebut di beberapa titik yang dinilai rawan bencana. Penerapan indikator ini menjadi bukti keseriusan daerah dalam memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman alam. Penasaran daerah mana saja yang telah memiliki indikator tanggap bencana terbanyak di Provinsi Lampung? Berikut IDN Times akan menyajikan ulasan lengkapnya.

1. Kabupaten Way Kanan

ilustrasi bencana longsor (IDN Times/Aditya Pratama)

Way Kanan terletak di wilayah utara Lampung dengan bentang alam berupa dataran rendah, kawasan hutan, serta banyak aliran sungai besar. Kedekatan permukiman dengan daerah aliran sungai membuat potensi banjir cukup tinggi, terutama saat curah hujan meningkat. Wilayah ini juga memiliki kawasan hutan dan perkebunan luas.

Berdasarkan data BPS Lampung, untuk kejadian bencana selama tahun 2025, Way Kanan mencatat mengalami beberapa kejadian bencana. Data BPS Lampung menunjukkan adanya 18 kejadian banjir di beberapa titik kecamatan. Selain itu, wilayah ini juga mengalami 48 kejadian gempa bumi tercatat sepanjang tahun 2025. Di samping itu, ada 8 kejadian angin puting beliung dan kekeringan yang berdampak pada aktivitas pertanian.

Meski begitu, menurut data BPS Lampung, Way Kanan sudah memiliki indikator kesiapsiagaan bencana cukup lengkap, seperti sistem peringatan dini bencana, perlengkapan keselamatan, jalur dan rambu evakuasi, serta pembangunan dan perawatan sungai, kanal, dan tanggul. Hal ini penting karena sebagian wilayahnya berada dekat bantaran sungai dan kawasan rawan banjir. Dengan indikator kesiapsiagaan tinggi, Way Kanan menempati posisi kelima dalam daftar daerah paling tanggap bencana di Lampung.

2. Kota Bandar Lampung

ilustrasi bencana alam (unsplash.com/chriswebdog)

Bandar Lampung sebagai ibu kota provinsi memiliki kepadatan penduduk tinggi dengan kawasan dataran rendah dan perbukitan saling berdampingan. Sebagian wilayahnya berada dekat pesisir Teluk Lampung, sementara wilayah lainnya berada di lereng dan dataran tinggi. Kombinasi ini membuat kota ini memiliki potensi banjir, longsor, serta bencana hidrometeorologi lainnya.

Menurut data BPS Lampung, pada tahun 2025, Bandar Lampung mencatat jumlah kejadian bencana cukup besar. Berdasarkan data BPS, terjadi 15 kejadian tanah longsor, 54 kejadian banjir, serta 9 kejadian banjir bandang di beberapa titik aliran sungai. Selain itu, tercatat 2 kejadian gelombang pasang laut di wilayah pesisir. Kota ini juga mengalami 14 kejadian angin puting beliung serta 2 kejadian kebakaran hutan dan lahan.

Sebagai daerah rawan bencana sekaligus ibukota provinsi, beradasarkan data BPS Lampung tahun 2025, Bandar Lampung sudah memiliki indikator kesiapsiagaan bencana cukup tinggi, seperti sistem peringatan dini bencana, peringatan dini tsunami di wilayah pesisir, perlengkapan keselamatan, rambu dan jalur evakuasi, serta kegiatan normalisasi sungai dan kanal. Upaya tersebut penting karena wilayah ini merupakan pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pemerintahan. Dengan tingkat kesiapsiagaan tinggi, Bandar Lampung berada di posisi keempat sebagai daerah dengan indikator tanggap bencana terbanyak.

3. Kabupaten Pesawaran

Ilustrasi Bencana (IDN Times/Sukma Shakti)

Pesawaran dikenal sebagai kabupaten dengan keindahan bahari karena memiliki garis pantai panjang dan banyak gugusan pulau-pulau kecil. Di sisi lain, bagian pedalamannya berupa perbukitan dan kawasan hutan. Kombinasi ini membuat Pesawaran memiliki potensi bencana cukup beragam, baik terkait wilayah pesisir maupun daerah perbukitan.

Untuk kejadian bencana pada tahun 2025, Pesawaran mencatat angka cukup signifikan. Data BPS Lampung menunjukkan adanya 10 kejadian tanah longsor, 65 kejadian banjir, serta 2 kejadian banjir bandang di sejumlah wilayah aliran sungai. Di wilayah pesisir juga tercatat 6 kejadian gelombang pasang laut. Selain itu, terjadi 10 kejadian angin puting beliung, 2 kejadian kebakaran hutan dan lahan, serta 36 kejadian kekeringan saat musim kemarau.

Sementara untuk Indikator ketanggapan bencana di Pesawaran menurut data BPS 2025 sudah memiliki indikator pencapain cukup baik, seperti tersedianya sistem peringatan dini bencana, sistem peringatan dini tsunami pada beberapa wilayah pesisir, perlengkapan keselamatan, jalur evakuasi, serta pembangunan dan normalisasi sungai, kanal, dan tanggul. Jalur evakuasi sangat penting terutama bagi masyarakat yang berada di kawasan pesisir. Dengan kondisi tersebut, Pesawaran berada di posisi ketiga sebagai daerah dengan indikator tanggap bencana terbanyak.

4. Kabupaten Tanggamus

Ilustrasi bencana banjir. (Pixabay.com/j_lloa)

Tanggamus memiliki bentang alam sangat beragam, mulai dari wilayah pegunungan, lembah, hingga pesisir pantai. Kehadiran perbukitan membuat sebagian wilayahnya rawan longsor, sementara daerah pesisir dan dataran rendah berpotensi banjir saat curah hujan meningkat. Karakter wilayah kompleks ini membuat Tanggamus membutuhkan kesiapsiagaan bencana tinggi.

Pada tahun 2025, kejadian bencana di Tanggamus cukup tinggi. Data BPS mencatat terjadi 23 kejadian tanah longsor di wilayah perbukitan dan lereng, serta 39 kejadian banjir di berbagai kecamatan. Selain itu, juga tercatat 4 kejadian angin puting beliung berdampak pada pemukiman dan fasilitas umum.

Untuk meminimalisir dampak dari bencana-bencana alam tersebut, berasarkan data BPS Lampung, Kab. Tanggamus sudah memiliki banyak indikator ketanggapan bencana, seperti sistem peringatan dini, perlengkapan keselamatan, rambu evakuasi, serta kegiatan pembangunan dan normalisasi sungai dan tanggul. Banyaknya indikator ini sejalan dengan kebutuhan mitigasi di wilayah yang memiliki kombinasi pegunungan dan pesisir. Dengan tingkat kesiapsiagaan besar dan kejadian bencana cukup intens, Tanggamus berada di posisi kedua sebagai daerah dengan indikator tanggap bencana terbanyak di Lampung.

5. Kabupaten Lampung Tengah

ilustrasi bencana (Unsplash/Marc Szeglat)

Lampung Tengah merupakan daerah dengan indikator ketanggapan bencana terbanyak di Provinsi Lampung. Wilayah ini didominasi dataran rendah dengan area pertanian dan permukiman luas, serta dilalui banyak aliran sungai. Karakter wilayah relatif datar membuat pengendalian tata air menjadi aspek penting, terutama pada musim hujan. Meski tidak memiliki garis pantai, Lampung Tengah tetap memiliki potensi banjir akibat curah hujan dan meluapnya sungai.

Untuk kejadian bencana pada tahun 2025, data BPS Lampung mencatat Kab.Lampung Tengah mengalami 14 kejadian banjir. Selain itu, wilayah ini juga mengalami 29 kejadian angin puting beliung dan umumnya berdampak pada permukiman dan lahan pertanian. Di sisi lain, Lampung Tengah juga tercatat mengalami 4 kejadian kekeringan saat musim kemarau sehingga mempengaruhi ketersediaan air di lahan pertanian.

Meski begitu, berdasarkan data BPS 2025, Kab. Lampung Tengah sudah memiliki indikator tanggap bencana cukup lengkap mulai dari sistem peringatan dini bencana, ketersediaan perlengkapan keselamatan, rambu evakuasi, hingga pembangunan dan normalisasi sungai, kanal, serta tanggul. Jumlah kegiatan pengelolaan sungai dan kanal juga menjadi salah satu yang terbesar, sejalan dengan kondisi daerahnya banyak memiliki badan air dan wilayah rawan genangan. Dengan indikator kesiapsiagaan paling banyak, Lampung Tengah menempati posisi pertama sebagai daerah paling tanggap bencana di Lampung.

Editorial Team