Bandar Lampung, IDN Times - Akademisi menilai wacana program nasional penggantian atap seng ke genteng atau "gentengisasi" disampaikan Presiden RI Prabowo Subianto masih membutuhkan kajian mendalam sebelum diterapkan secara luas di seluruh Indonesia.
Ketua Kelompok Keilmuan Arsitektur Adaptasi Ekologi Institut Teknologi Sumatera (Itera), Dr Rendy Perdana Khidmat mengatakan, pernyataan presiden soal atap seng dinilai tidak estetis perlu dipahami secara utuh dalam konteks tertentu, terutama berkaitan dengan bangunan di kawasan pariwisata.
“Kalau kita lihat dari konteks pidato Presiden, itu muncul dari pengamatan langsung terhadap bangunan yang dinilai tidak layak dan tidak estetis. Bisa jadi memang bangunan yang dilihat kondisinya sudah lapuk atau tidak sesuai peruntukan,” ujar Rendy dikonfirmasi, Kamis (4/2/2026).
