Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi Kerusuhan
Ilustrasi Kerusuhan (Pexel/Stasham)

Intinya sih...

  • Kabupaten Pringsewu memiliki 2 perkelahian massal dengan 2 orang terluka dan tanpa korban meninggal.

  • Kabupaten Lampung Utara juga mencatat 2 kejadian perkelahian massal dengan 2 warga terluka tanpa korban meninggal.

  • Kabupaten Lampung Selatan memiliki 2 perkelahian massal dengan 2 warga terluka tanpa korban meninggal.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Perkelahian massal masih menjadi persoalan sosial yang kerap muncul dan mudah membesar di Provinsi Lampung. Konflik bermula dari persoalan kecil sering kali berkembang menjadi bentrokan terbuka antarwarga, bahkan melibatkan banyak orang dan menimbulkan korban.

Situasi ini bukan hanya mengganggu rasa aman masyarakat, tetapi juga mencerminkan rapuhnya kerukunan sosial di sejumlah wilayah.

Indikator perkelahian massal dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk membaca potensi ancaman keamanan. Sepanjang 2025, BPS Lampung masih mencatat ada total 19 perkelahian massal di sejumlah kabupaten dan kota.

Berdasarkan data tersebut, IDN Times merangkum lima daerah dengan tingkat perkelahian massal terbanyak di Lampung selama 2025.

1. Kabupaten Pringsewu

Ilustrasi Kerusuhan (Pexel/David Olokoba)

Kabupaten Pringsewu memiliki luas wilayah sekitar 625 kilometer persegi dengan jumlah penduduk lebih dari 420 ribu jiwa. Sebagai salah satu daerah dengan kepadatan penduduk cukup tinggi, Pringsewu dihuni mayoritas suku Jawa, disertai komunitas Lampung dan Sunda.

Data BPS 2025 mencatat ada dua kejadian perkelahian massal di Pringsewu. Interaksi sosial intens di wilayah padat penduduk membuat potensi konflik terbuka dan tetap perlu diwaspadai.

Dari kejadian tersebut, dua orang terluka dan tidak terdapat korban meninggal dunia. Dengan jumlah kejadian sama dengan Lampung Selatan dan Lampung Utara, Pringsewu berada di peringkat kelima daerah dengan perkelahian massal terbanyak di Lampung selama 2025.

2. Kabupaten Lampung Utara

Ilustrasi Kerusuhan (Pexel/Alain Nkingi)

Kabupaten Lampung Utara memiliki luas wilayah sekitar 2.725 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 620 ribu jiwa. Wilayah ini didominasi aktivitas pertanian dan perkebunan, dengan masyarakat yang mayoritas berasal dari suku Lampung dan sebagian bersuku Jawa.

Pada 2025, BPS mencatat dua kejadian perkelahian massal di Lampung Utara. Konflik sosial di wilayah agraris seperti ini sering kali dipicu oleh persoalan antarwarga desa dengan melibatkan banyak pihak.

Akibat perkelahian massal tersebut, dua warga terluka, tanpa adanya korban meninggal dunia. Jumlah kejadian sama dengan Lampung Selatan, Lampung Utara menempati peringkat keempat daerah dengan perkelahian massal terbanyak di Lampung.

3. Kabupaten Lampung Selatan

Ilustrasi Kerusuhan (Pexel/Luis Becerra Fotógrafo)

Kabupaten Lampung Selatan memiliki luas wilayah sekitar 2.007 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mendekati 1,1 juta jiwa. Sebagai gerbang utama Pulau Sumatra melalui Pelabuhan Bakauheni, daerah ini memiliki mobilitas penduduk tinggi serta komposisi masyarakat beragam, terutama suku Jawa dan Lampung.

BPS mencatat dua kejadian perkelahian massal di Lampung Selatan sepanjang 2025. Konflik tersebut menjadi perhatian karena melibatkan masyarakat dalam skala besar.

Dari sisi korban, perkelahian massal di Lampung Selatan menyebabkan dua warga terluka tanpa adanya korban meninggal dunia. Jumlah kejadian tersebut, Lampung Selatan berada di peringkat ketiga daerah dengan perkelahian massal terbanyak di Lampung.

4. Kabupaten Way Kanan

Ilustrasi Kerusuhan (Pexel/Bappy Rana)

Kabupaten Way Kanan memiliki luas wilayah sekitar 3.921 kilometer persegi dengan jumlah penduduk lebih dari 470 ribu jiwa. Wilayah ini dikenal sebagai daerah perlintasan strategis dengan komposisi penduduk didominasi suku Lampung dan Jawa, disertai komunitas Batak dan Sunda.

Sepanjang 2025, BPS mencatat terjadi tiga perkelahian massal di Way Kanan, menjadikannya daerah dengan jumlah kasus terbanyak kedua di Lampung. Konflik sosial di wilayah ini kerap dipicu persoalan antarwarga dengan melibatkan kelompok dalam jumlah besar.

Dari seluruh daerah yang masuk lima besar, Way Kanan menjadi satu-satunya wilayah yang mencatat korban meninggal dunia. Data BPS menunjukkan satu orang meninggal dan dua orang terluka, sehingga total korban terdampak mencapai tiga orang.

Dengan angka tersebut, Way Kanan menempati peringkat kedua perkelahian massal terbanyak di Lampung.

5. Kota Bandar Lampung

Ilustrasi Kerusuhan (Pexel/Luis Becerra Fotógrafo)

Kota Bandar Lampung memiliki luas wilayah sekitar 197,22 kilometer persegi dengan jumlah penduduk lebih dari 1,1 juta jiwa. Sebagai ibu kota provinsi, wilayah ini dihuni masyarakat multietnis, mulai dari suku Lampung, Jawa, Sunda, Minang, hingga Tionghoa. Kepadatan penduduk dan dinamika kehidupan perkotaan menjadikan potensi gesekan sosial relatif tinggi.

Dalam data BPS 2025, Bandar Lampung tercatat sebagai daerah dengan jumlah perkelahian massal terbanyak di Lampung, yakni sembilan kejadian. Angka ini menempatkan Bandar Lampung di posisi teratas dibanding daerah lain di provinsi ini.

Dari sisi dampak, perkelahian massal di Bandar Lampung selama 2025 menyebabkan sembilan orang terluka. Tidak ada korban meninggal dunia tercatat, namun jumlah korban luka menunjukkan konflik sosial di wilayah perkotaan masih menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian khusus.

Jika diakumulasi dari lima daerah ini saja, sepanjang 2025 BPS Lampung mencatat total 18 kejadian perkelahian massal. Dari seluruh kejadian tersebut, total korban mencapai 18 orang, dengan rincian satu orang meninggal dunia dan 17 orang terluka.

Data ini menegaskan perkelahian massal masih menjadi persoalan nyata di Lampung, baik di wilayah perkotaan maupun kabupaten. Indikator ini sekaligus menjadi peringatan bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pencegahan konflik, menjaga stabilitas keamanan, serta merawat kerukunan sosial masyarakat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team