Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WhatsApp Image 2026-01-07 at 5.20.02 PM.jpeg
AMDK ini masih akan menjadi momentum atau pilar penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional 2026. (Dok. Amdatara).

Intinya sih...

  • Perkuat konsolidasi di antara para pelaku usaha AMDK

  • Kesadaran terhadap kualitas serta keamanan produk

  • Pentingnya penguatan permintaan domestik

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia mencatat pertumbuhan relatif konsisten satu dekade terakhir. Hal itu didorong adanya pertumbuhan jumlah penduduk dan urbanisasi yang semakin masif, serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya akses terhadap air minum yang aman.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Air Kemasan Nusantara (AMDATARA) Karyanto Wibowo memprediksi, industri AMDK ini masih akan menjadi momentum atau pilar penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional 2026. Untuk mendukung hal tersebut, dia mengatakan perlu diiringi dengan peningkatan efisiensi produksi, penguatan rantai pasok, serta inovasi produk.

1. Perkuat konsolidasi di antara para pelaku usaha AMDK

ilustrasi kerjasama tim yang solid (pexels.com/fauxels)

Karyanto menjelaskan, sebagai asosiasi baru di industri AMDK, AMDATARA akan memperkuat konsolidasi di antara para pelaku usaha AMDK. “AMDATARA akan hadir sebagai wadah kolaborasi produsen air minum dalam kemasan untuk membangun industri yang berdaya saing, bertanggung jawab, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya dalam keterangan resmi, Rabu (7/1/2026).

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menambahkan, konsumsi domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya pada awal 2026 dipengaruhi momentum hari besar keagamaan dan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menilai stabilitas ekonomi makro yang terjaga akan memperkuat iklim usaha nasional. Dia optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap dapat berada di atas 5 persen sepanjang 2026 apabila sinergi antara kebijakan pemerintah dan dunia usaha terus diperkuat.

Dalam konteks tersebut, menurutnya, sektor manufaktur, khususnya industri makanan dan minuman, dipandang memiliki prospek yang positif.

2. Kesadaran terhadap kualitas serta keamanan produk

ilustrasi seorang perempuan sedang minum air mineral (freepik.com/tawatchai07)

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman menyampaikan, permintaan produk makanan dan minuman masih tumbuh seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat dan kesadaran terhadap kualitas serta keamanan produk.

Menurutnya, industri AMDK sebagai bagian dari subsektor makanan dan minuman diperkirakan turut menikmati dampak positif dari pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor ini akan tetap menjadi salah satu motor penggerak industri manufaktur nasional pada 2026.

“Kebutuhan masyarakat terhadap air minum yang aman, higienis, dan mudah diakses menjadi salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan industri ini,” ujarnya.

3. Pentingnya penguatan permintaan domestik

Ilustrasi wanita meminum air mineral. (pexel.com/Mart Production)

Dari sisi kebijakan industri, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, sektor makanan dan minuman merupakan salah satu tulang punggung industri pengolahan nonmigas. Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan kapasitas produksi, penerapan standar mutu, serta transformasi industri yang berkelanjutan.

Sejalan dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya penguatan permintaan domestik, peningkatan daya saing industri nasional, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif sebagai kunci menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada 2026. Apalagi pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 di kisaran 5,0–5,4 persen.

Editorial Team