Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi ekspor (pexels.com/Wolfgang Weiser)
ilustrasi ekspor (pexels.com/Wolfgang Weiser)

Intinya sih...

  • Lampung mencatat surplus neraca perdagangan USD 234,31 juta hingga Februari 2025
  • Ekspor Lampung tumbuh 8,46 persen, didukung sektor industri pengolahan, pertambangan, dan pertanian
  • Pendapatan negara di Lampung mencapai Rp2,69 triliun hingga Maret 2025, dengan lonjakan tertinggi dari Bea Keluar
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times – Perekonomian Lampung menunjukkan ketahanan luar biasa hingga akhir Maret 2025. Di tengah tekanan eksternal seperti proteksionisme Amerika Serikat dan penurunan harga komoditas ekspor unggulan (CPO, kopi, dan batu bara), Lampung justru mencatatkan kinerja yang solid.

“Lampung berhasil mempertahankan surplus neraca perdagangan sebesar USD 234,31 juta hingga Februari 2025,” ujar Muhammad Dody Fachrudin, Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) Provinsi Lampung, Kamis (8/5/2025).

1. Pertambangan dan pertanian jadi penopang

ilustrasi pertanian gandum (pexels.com/Soran Ali)

Dody menjelaskan ekspor Lampung tumbuh 8,46 persen(mtm), ditopang sektor industri pengolahan, pertambangan, dan pertanian.

Sementara itu, impor juga tumbuh signifikan 18,54 persen (mtm), didominasi oleh barang modal dan bahan baku. “Ini menandakan aktivitas industri di Lampung masih bergeliat,” tambahnya.

2. Lonjakan tertinggi dari bea keluar

Ilustrasi terganggunya pasokan barang Indonesia (pexels.com/@chanaka-318741)

Di sisi fiskal, hingga 31 Maret 2025, pendapatan negara di Lampung mencapai Rp2,69 triliun atau 24,25 persen dari target tahunan, dengan pertumbuhan 42,63 persen (yoy). Lonjakan tertinggi berasal dari Bea Keluar sebesar Rp844,03 miliar, naik drastis 1.473,70% (yoy).

“Peningkatan ini mencerminkan kuatnya kontribusi sektor ekspor terhadap penerimaan negara. Di sisi lain, penerimaan Cukai dan Pajak Lainnya juga tumbuh masing-masing 176,94 persen dan 1.047,5 persen,” ujar Dody.

3. APBN sebagai penyangga ekonomi

Konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Kamis (13/3/2025). (IDN Times/Triyan Pangastuti)

Menurut Dody dengan adanya pencapaian ini menegaskan fungsi APBN sebagai penyangga ekonomi daerah.

“Meski dunia sedang bergejolak, Lampung tetap bisa menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung program prioritas untuk masyarakat,” tuturnya.

Editorial Team