Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)

Intinya sih...

  • PDRB Provinsi Lampung triwulan I 2025 tumbuh 5,47 persen YoY, tertinggi dalam 5 tahun terakhir.
  • Sektor pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan dominan dengan kontribusi 58,83 persen terhadap PDRB.
  • Peningkatan produksi pangan, terutama padi, mendukung pertumbuhan ekonomi Lampung.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Provinsi Lampung mencatatkan perekonomian pada triwulan I 2025 tumbuh sebesar 5,47 persen secara tahunan atau year on year (YoY). Jumlah persentase ini pertumbuhan tertinggi dalam 5 tahun terakhir.

Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution mengatakan, produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Lampung pada triwulan I 2025 mencapai Rp121,70 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp69,56 triliun atas dasar harga konstan.

"Jika dibandingkan dengan triwulan IV 2024, ekonomi Lampung mengalami kontraksi sebesar 1,11 persen (gtq). Namun secara tahunan, ekonomi tumbuh positif sebesar 5,47 persen yang menjadi pertumbuhan tertinggi dalam lima tahun terakhir," ujarnya, Selasa (6/5/2025).

1. Pertumbuhan didominasi tiga sektor

Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution

Ahmadriswan melanjutkan, perekonomian Lampung secara tahunan masih didominasi oleh tiga sektor utama meliputi pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan yang secara berkontribusi sebesar 58,83 persen terhadap PDRB.

Sektor kategori pertanian memiliki distribusi 24,37 persen atau tumbuh 1,20 persen, industri pengolahan mencatat distribusi 19,52 persen atau tumbuh tertinggi 1,61 persen, dan perdagangan memberikan distribusi 14,95 persen atau tumbuh 0,98 persen.

"Peningkatan produksi pangan, khususnya padi, menjadi salah satu faktor pendukung utama. Berdasarkan survei kerangka sampel area (KSA), produksi padi meningkat secara tahunan sebesar 111,21 persen dibanding tahun sebelumnya, seiring dengan normalnya kembali siklus panen pasca-El Nino," katanya.

2. Pengeluaran konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung

Ilustrasi transaksi ekonomi. (IDN Times/Aditya Pratama)

Dari sisi pengeluaran, Ahmadriswan menyampaikan, pengeluaran konsumsi rumah tangga (PKRT) tetap menjadi tulang punggung perekonomian Lampung, dengan kontribusi sebesar 64,79 persen dan pertumbuhan 5,06 persen. Sumber pertumbuhan dari PKRT sebesar 3,17 persen dengan kontribusi terhadap total pertumbuhan 57,90 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi triwulan ini.

Sementara itu, komponen ekspor juga mencatat peran penting dengan memberikan andil sebesar 55,27 persen. Pertumbuhan komponen ekspor mencapai 12,96 persen dengan kontribusi terhadap total pertumbuhan ekonomi 118,10 persen.

"Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, beberapa sektor ekonomi mengalami pertumbuhan positif, di antaranya jasa keuangan tumbuh sebesar 4,71 persen, administrasi pemerintahan naik 3,96 persen, dan transportasi dan pergudangan meningkat 3,31 persen," imbuhnya.

3. Pengadaan listrik dan gas terkontraksi

Ilustrasi petugas PLN. (Dok. PLN)

Beberapa sektor turut mengalami kontraksi cukup dalam di antaranya meliputi pengadaan listrik dan gas terkontraksi sebesar 10,65 persen, jasa lainnya turun (8,54 persen), dan konstruksi menurun (4,97 persen).

"Dari sisi pengeluaran, hampir semua komponen mengalami kontraksi secara q-to-q, kecuali PKRT yang masih tumbuh tipis sebesar 0,59 persen," kata Ahmadriswan.

Sementara itu, realisasi investasi menunjukkan dinamika yang beragam. Investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tumbuh sebesar 33,26 persen (yoy) dan 49,49 persen (qtq). "Sebaliknya, penanaman modal asing mengalami kontraksi 17,55 persen (yoy), meskipun naik 11,59 persen (qtq)," tambah dia. 

4. Impor luar negeri naik signifikan

ilustrasi ekspor impor (Pexels.com)

Ahmadriswan menyatakan, nilai impor luar negeri Lampung dicatat meningkat signifikan dengan tumbuh 142,83 persen (yoy) dan 141,57 persen (qtq). Volume impor turut naik masing-masing sebesar 44,60 persen (yoy) dan 38,29 persen (qtq).

"Momentum Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional turut berpengaruh terhadap peningkatan konsumsi dan mobilitas, yang secara keseluruhan menopang pertumbuhan ekonomi daerah," imbuhnya.

Editorial Team