Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Illustrasi Belanja (Pexel/Gustavo Fring)
Illustrasi Belanja (Pexel/Gustavo Fring)

Intinya sih...

  • Kabupaten Pringsewu memiliki 298 unit pertokoan, pasar, dan sarana perdagangan

  • Kabupaten Lampung Timur memiliki 528 unit pertokoan, pasar, dan sarana perdagangan

  • Kabupaten Lampung Selatan memiliki 543 unit pertokoan, pasar, dan sarana perdagangan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Perputaran uang adalah nadi utama perekonomian daerah. Semakin aktif pusat pertokoan, pasar tradisional, hingga sarana perdagangan modern seperti minimarket dan restoran, maka semakin hidup pula denyut ekonomi masyarakatnya.

Pasar bukan sekadar tempat jual beli, tetapi ruang bertemunya produsen, pedagang, dan konsumen yang menciptakan pergerakan ekonomi harian. Begitu pula restoran dan rumah makan yang menjadi indikator meningkatnya daya beli dan gaya hidup masyarakat.

Jika perputaran uang berjalan lancar, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga berimbas pada penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan sektor jasa, hingga peningkatan pendapatan daerah. Inilah sebabnya mengapa jumlah pertokoan, pasar, dan sarana perdagangan kerap dijadikan salah satu cerminan kemajuan ekonomi suatu wilayah.

Sepanjang 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat aktivitas perekonomian daerah. Salah satunya melalui pendataan jumlah pertokoan, pasar, dan sarana perdagangan di seluruh kabupaten/kota.

Berdasarkan penggabungan data kelompok pertokoan, pasar, serta minimarket dan restoran, berikut IDN Times sajikan 5 daerah di Lampung dengan jumlah pertokoan, pasar, dan sarana perdagangan terbanyak di Provinsi Lampung.

1. Kabupaten Pringsewu

Illustrasi Belanja (Pexel/Gustavo Fring)

Pringsewu merupakan kabupaten dengan wilayah relatif kecil, sekitar 625 km², namun memiliki kepadatan penduduk tinggi dengan lebih dari 400 ribu jiwa. Struktur ekonomi Pringsewu bertumpu pada perdagangan, jasa, dan UMKM.

Banyak penduduknya bekerja sebagai pedagang, pengusaha kecil, serta pelaku sektor jasa. Merujuk pendataan BPS 2025, Pringsewu memiliki 37 kelompok pertokoan.

Pasar tradisional tetap berperan penting dengan 35 pasar bangunan permanen, 40 pasar semi permanen, dan 3 pasar tanpa bangunan. Sarana perdagangan modern dan kuliner juga berkembang signifikan.

Pringsewu tercatat memiliki 91 minimarket/swalayan/supermarket dan 112 restoran atau rumah makan. Jika seluruh komponen digabungkan, total pertokoan, pasar, dan sarana perdagangan di Pringsewu mencapai 298 unit, menjadikannya daerah diposisi kelima dengan jumlah pertokoan, pasar, dan sarana perdagangan terbanyak di Provinsi Lampung.

2. Kabupaten Lampung Timur

Illustrasi Street Food (Pexel/Tony Wu)

Lampung Timur memiliki luas wilayah sekitar 5.325 km² dengan jumlah penduduk lebih dari 1,1 juta jiwa. Daerah ini dikenal sebagai salah satu lumbung pertanian di Lampung, dengan sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani, pedagang, dan pelaku usaha kecil.

Aktivitas ekonomi Lampung Timur sangat bergantung pada pasar rakyat dan konsumsi lokal. Data menunjukkan terdapat 92 kelompok pertokoan di Lampung Timur.

Pasar tradisional menjadi tulang punggung perdagangan dengan 56 pasar bangunan permanen, 40 pasar semi permanen, dan 11 pasar tanpa bangunan aktif melayani transaksi harian masyarakat.

Untuk sarana perdagangan modern, Lampung Timur memiliki 187 minimarket/swalayan/supermarket serta 222 restoran atau rumah makan. Jika seluruhnya dijumlahkan, total sarana perdagangan di Lampung Timur mencapai 528 unit, menempatkannya di posisi keempat sebagai daerah dengan jumlah pertokoan, pasar, dan sarana perdagangan terbanyak di Provinsi Lampung.

3 Kabupaten Lampung Selatan

Illustrasi Belanja (Pexel/Kampus Production)

Lampung Selatan memiliki luas wilayah sekitar 2.218 km² dan dikenal sebagai pintu masuk utama Provinsi Lampung dari Pulau Jawa. Jumlah penduduknya mendekati 1,1 juta jiwa dengan mata pencaharian beragam, mulai dari pertanian, perikanan, perdagangan, hingga sektor jasa.

Mobilitas tinggi akibat arus logistik dan penumpang turut mendorong geliat ekonomi daerah ini. Dalam pendataan BPS, Lampung Selatan memiliki 80 kelompok pertokoan.

Pasar tradisional juga cukup dominan dengan 24 pasar bangunan permanen, 55 pasar semi permanen, dan 6 pasar tanpa bangunan yang tersebar di berbagai kecamatan. Perdagangan modern dan sektor kuliner berkembang pesat, tercermin dari keberadaan 258 minimarket/swalayan/supermarket serta 107 restoran atau rumah makan.

Jika digabungkan, total jumlah pertokoan, pasar, dan sarana perdagangan di Lampung Selatan mencapai 543 unit, menempatkannya di posisi ketiga sebagai daerah dengan jumlah pertokoan, pasar, dan sarana perdagangan terbanyak di Provinsi Lampung.

4. Kabupaten Lampung Tengah

Illustrasi Belanja (Pexel/Ninthgrid)

Lampung Tengah merupakan kabupaten dengan luas wilayah terbesar di Provinsi Lampung, mencapai sekitar 4.548 km². Jumlah penduduknya lebih dari 1,5 juta jiwa, dengan mata pencaharian utama di sektor pertanian, perdagangan, dan jasa.

Posisi geografis berada di tengah provinsi menjadikan daerah ini sebagai simpul distribusi barang antarwilayah. Aktivitas perdagangan di Lampung Tengah tercermin dari jumlah 116 kelompok pertokoan melayani kebutuhan masyarakat di berbagai kecamatan.

Selain itu, terdapat 58 pasar dengan bangunan permanen, 39 pasar semi permanen, serta 7 pasar tanpa bangunan masih menjadi pusat transaksi komoditas lokal. Dari sisi perdagangan modern dan kuliner, Lampung Tengah memiliki 169 minimarket/swalayan/supermarket serta 169 restoran dan rumah makan.

Jika seluruh komponen tersebut dijumlahkan, total sarana perdagangan di Lampung Tengah mencapai 558 unit, menempatkannya sebagai daerah dengan aktivitas perdagangan terbesar kedua di Lampung.

5. Kota Bandar Lampung

Illustrasi Pasar (Pexel/Nic Law)

Sebagai ibu kota provinsi, Bandar Lampung memiliki luas wilayah sekitar 197 km² dengan jumlah penduduk lebih dari 1,1 juta jiwa. Struktur ekonomi kota ini didominasi sektor perdagangan, jasa, transportasi, serta kuliner.

Sebagian besar penduduknya bekerja di sektor non-pertanian, mulai dari pedagang, pekerja jasa, pegawai swasta, hingga pelaku UMKM. Kepadatan penduduk dan tingginya mobilitas membuat aktivitas ekonomi di Bandar Lampung berjalan nyaris tanpa jeda.

Dari sisi infrastruktur perdagangan, Bandar Lampung menjadi daerah dengan jumlah sarana terbanyak di Lampung. Tercatat terdapat 456 kelompok pertokoan tersebar dari pusat kota hingga kawasan pinggiran. Selain itu, ada 14 pasar dengan bangunan permanen, 456 pasar dengan bangunan semi permanen, serta 70 pasar tanpa bangunan, menunjukkan masih kuatnya peran pasar rakyat dalam memenuhi kebutuhan harian warga.

Sarana perdagangan modern juga tumbuh pesat. Bandar Lampung memiliki 271 minimarket/swalayan/supermarket dan 448 restoran atau rumah makan. Jika seluruh data digabungkan, total pertokoan, pasar, dan sarana perdagangan di Bandar Lampung mencapai 1.732 unit, menjadikannya episentrum perputaran uang terbesar dan nomor satu di Provinsi Lampung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team