Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi teman (pexels.com/Pavel Danilyuk)
ilustrasi teman (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Intinya sih...

  • Kehilangan sahabat lebih sakit daripada putus dengan pacar karena ikatan persahabatan bisa terjalin puluhan tahun, meninggalkan bekas yang lebih dalam.
  • Dalam persahabatan jangka panjang, kamu kehilangan ruang aman untuk menjadi dirimu seutuhnya dan merasa kehilangan sebagian besar kenangan hidupmu.
  • Kurangnya validasi dan support sistem saat kehilangan sahabat membuat proses pemulihannya jadi lebih sulit, serta dihantam oleh penolakan yang menyentuh nilai dirimu sebagai teman.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah gak sih, kamu merasa duniamu runtuh saat sahabat yang sudah bertahun-tahun dekat tiba-tiba menjauh tanpa penjelasan? Perasaan sakit yang muncul kadang terasa jauh lebih dalam dibanding saat putus dengan pacar.

Meskipun kedua hubungan ini sama-sama berharga, tapi entah kenapa kehilangan sahabat punya dampak emosional yang lebih bertahan lama. Hal ini bukan cuma perasaanmu saja, lho. Banyak penelitian psikologi yang menunjukkan ikatan persahabatan sebenarnya bisa lebih kuat dari hubungan romantis.

Sahabat adalah orang yang kita pilih untuk jadi keluarga, tempat berbagi segalanya tanpa filter, dan saksi hidup kita selama bertahun-tahun. Gak heran kalau kehilangan mereka bisa terasa jauh lebih menyakitkan. Yuk, simak lima alasan mengapa ditinggalkan sahabat lebih sakit daripada putus dengan pacar!

1. Persahabatan biasanya bertahan lebih lama daripada hubungan romantis

ilustrasi teman (pexels.com/Tim Douglas)

Coba deh ingat-ingat, berapa lama rata-rata kamu pacaran sebelum akhirnya putus? Mungkin beberapa bulan atau beberapa tahun. Tapi persahabatan? Bisa jadi sudah terbentuk sejak kamu masih duduk di bangku SD atau SMP.

Ikatan yang terjalin selama puluhan tahun tentunya meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam saat tiba-tiba hilang dari hidupmu. Dalam persahabatan jangka panjang, kalian sudah melewati berbagai fase hidup bersama-sama.

Dari masa remaja yang labil, pergantian sekolah, kuliah, hingga mungkin awal kareir. Mereka tahu versi dirimu yang bahkan mungkin sudah kamu lupakan. Ketika orang yang sudah menyaksikan perjalanan hidupmu selama bertahun-tahun tiba-tiba pergi, rasanya seperti kehilangan sebagian besar kenangan dan sejarah hidupmu. Sakit banget, kan?

2. Sahabat melihat sisi dirimu yang gak pernah kamu tunjukkan ke pacar

ilustrasi teman (pexels.com/Ron Lach)

Dengan sahabat, kamu bisa jadi dirimu yang paling autentik tanpa takut dihakimi. Kamu bisa nangis jelek-jelek, cerita hal-hal memalukan, atau mengungkapkan ketakutan terdalam yang bahkan gak berani kamu bagi dengan pacar.

Sahabat melihat dan menerima seluruh bagian dirimu, baik dan buruk, tanpa syarat. Ketika mereka pergi, kamu kehilangan ruang aman untuk menjadi dirimu seutuhnya.

Lebih menyakitkan, ketika sahabat menjauh, kamu mungkin mulai mempertanyakan apakah selama ini ada yang salah dengan dirimu yang paling autentik. Bagaimana mungkin orang yang sudah melihat semua sisimu dan tetap bertahan selama ini, tiba-tiba memutuskan untuk pergi?

Ketidakpastian ini jauh lebih merusak kepercayaan dirimu dibanding saat putus dengan pacar, yang mungkin hanya melihat versi terbaikmu saja.

3. Putus dengan pacar masih dianggap wajar, tapi kehilangan sahabat jarang divalidasi

ilustrasi psikolog (pexels.com/Antoni Shkraba)

Saat kamu putus dengan pacar, semua orang langsung memberikan simpati. Mereka mengerti kamu butuh waktu untuk healing, menghiburmu, bahkan mungkin memberimu cuti sakit hati.

Tapi coba deh saat kamu bilang sedih kehilangan sahabat, reaksinya jauh berbeda. Banyak yang menganggap enteng dengan komentar seperti "Ya sudahlah, cari teman baru aja."

Kurangnya validasi dan support sistem saat kehilangan sahabat membuat proses pemulihannya jadi lebih sulit. Kamu gak punya ruang yang cukup untuk berkabung dan menerima kesedihan itu.

Alih-alih diperbolehkan merasa sedih, kamu malah dituntut untuk segera move on tanpa proses healing yang layak. Padahal, kehilangan koneksi persahabatan bisa sama beratnya, bahkan lebih, dari kehilangan romantis.

4. Persahabatan dibangun atas dasar pilihan murni, bukan ketertarikan fisik

ilustrasi teman (pexels.com/Ron Lach)

Hubungan romantis sering dimulai dari ketertarikan fisik atau chemistry yang kemudian berkembang jadi koneksi emosional. Tapi persahabatan? Murni dimulai karena kalian cocok satu sama lain, values, humor, cara pandang, atau minat yang sama.

Kalian memilih untuk tetap ada dalam hidup satu sama lain bukan karena nafsu atau ketertarikan fisik, tapi karena genuinely enjoy kehadiran satu sama lain. Ketika hubungan yang dibangun atas dasar pilihan murni ini berakhir, rasanya jauh lebih personal.

Ini bukan soal "kita gak cocok secara romantis" atau "chemistry kita hilang", alasan yang masih bisa diterima logika. Ini lebih ke arah "aku gak mau kamu ada dalam hidupku lagi" yang langsung menghantam inti siapa dirimu sebagai individu. Penolakan semacam ini jauh lebih menyakitkan karena menyentuh nilai dirimu sebagai teman, bukan sekadar pasangan.

5. Secara alamiah punya ekspektasi persahabatan akan bertahan seumur hidup

ilustrasi teman (pexels.com/Tim Douglas)

Sejak kecil, kita sudah diperkenalkan dengan konsep "sahabat sejati" yang akan selalu ada sampai tua. Film-film dan buku cerita menggambarkan persahabatan sebagai ikatan sakral yang bisa melewati badai apa pun.

Jadi, ketika persahabatan berakhir, hal ini bertentangan dengan ekspektasi dasar kita tentang bagaimana persahabatan seharusnya. Berbeda dengan hubungan romantis yang sejak awal kita tahu punya kemungkinan berakhir.

Kita bahkan mempersiapkan diri untuk kemungkinan itu dengan menandatangani prenup, memisahkan keuangan, atau tetap menjaga beberapa hal privasi. Tapi dengan sahabat? Kita membuka diri seutuhnya tanpa persiapan untuk kehilangan mereka. Ketika mereka pergi, kita gak cuma kehilangan orang yang berharga, tapi juga kehilangan kepercayaan pada konsep persahabatan itu sendiri.

Kalau saat ini kamu sedang berjuang menghadapi perpisahan dengan sahabat, ketahuilah bahwa perasaan sakitmu valid. Gak perlu merasa berlebihan atau malu karena merasa terpuruk kehilangan "cuma teman". Ikatan persahabatan adalah salah satu koneksi terdalam yang bisa dimiliki manusia, dan kehilangannya pantas mendapat proses berkabung yang layak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team