Comscore Tracker

Muklis, Praktisi Parkour Banyak Prestasi, Kini Bangun Kampung Kreatif

Bangun kampung kreatif di Bungur Metro

Metro, IDN Times – Parkour kian mendapat atensi dari masyarakat Lampung, khususnya Kota Metro. Ciri khas parkour berpindah dari satu titik ke titik lainnya secara cepat dan aktivitas fisik, mulai dari berlari, melompat, memanjat, berayun, berguling, dan gerakan bebas lainnya memicu atensi para milenial.

Satu contohnya adalah Mukhlis Aprianto (25)  pemuda kelahiran Metro 1996. Ia adalah praktisi parkour dan mengenal aktivitas tersebut sejak 2011. Tak sekadar hobi, melalui parkour ia meraih prestasi hingga menginspirasi para milenial dan gen z di tempat tinggalnya saat ini.

Kepada IDN Times, ia berbagi cerita seputar kegiatan parkour dilakoninya.

1. Kenal parkour sejak 2011

Muklis, Praktisi Parkour Banyak Prestasi, Kini Bangun Kampung Kreatifbest-parkour.com

Muklis mengatakan, mengenal parkour pertama kalinya 2011 silam dari temannya. Sejak saat itu Mukhlis mulai serius berlatih bersama teman-temannya.

“Sejak menjadi hobi kami mulai latihan. (lokasin) Pindah-pindah kadang  di taman kota, terminal. Awalnya masih sedikit yang mengetahui olahraga ini di Metro, paling sekitar 10 orang,” kenangnya, Sabtu (27/11/2021).

Terkait alasan menyukai Parkour diciptakan David Belle asal Prancis adalah, metode gerakan yang unik. Gerakan itu di antaranya, berlari, melompat, berayun, menggelantung, dan memanjat. Gerakan itu menurutnya indah.

Baca Juga: Dinkes Metro Siapkan Vaksinasi COVID-19 Anak Usia di Bawah 12 Tahun  

2. Beranikan diri ikut lomba

Muklis, Praktisi Parkour Banyak Prestasi, Kini Bangun Kampung KreatifMukhlis Aprianto praktisi parkour asal Kota Metro Lampung. (IDN Times/Istimewa).

Berkat latihan rutin, Muklis memberanikan diri mengikuti berbagai lomba sejak 2018. Latihan intens parkour bertahun-tahun dilaluinya tak bertepuk sebelah tangan, ia meraih banyak prestasi positif.

“Prestasi yang berkesan buat saya adalah saat mengikuti Singapore Open kejuaraan tingkat Asia Cabang Olahraga Trampolin Gymnastic Posisi 5,” jelasnya.

Muklis juga pernah berpartisipasi  di event internasional pada Bank BRI Championsip 2019 yang digelar di Jakarta “Saat itu saya meraih posisi 2 untuk kategori juara nasional dan untuk kategori internasional saya belum berhasil meraih prestasi,” katanya.

Selain aktif sebagai praktisi parkour, Mukhlis kini juga memegang sertifikasi Coaching Clinic Greg Roe Trampolin yang diraihnya  di Jakarta 2018. Berkat sertifikasi tersebut Mukhlis pernah diundang mengajar para prajurit Kopasus di Cijantung 2020 lalu.

3. Melatih anak-anak

Muklis, Praktisi Parkour Banyak Prestasi, Kini Bangun Kampung KreatifAnak didik Mukhlis Aprianto meraih prestasi ajang internasional. (IDN Times/Istimewa).

Puas malang melintang di berbagai kota, Mukhlis memutuskan pulang ke Metro saat awal pandemik. Di kota ini, ia membuka tempat pelatihan di rumahnya yang terletak di Jalan Bungur, Metro Pusat.

Sejumlah anak kini menjadi muridnya meneruskan kiprahnya menekuni parkour. Bahkan, Oktober 2021 dua anak asuhnya Rania dan Sara mengikuti kompetisi  Parkour Asia Junior Championship digelar Asia Free Running Parkour Union untuk kategori usia dibawah 16 tahun.

“Alhamdulillah pada even tersebut Rania yang masih berusia 10 tahun berhasil meraih peringkat 3 dalam kompetisi yang digelar secara daring tersebut. Kami mengirimkan video gerak keduanya untuk kemudian dinilai oleh para juri, “jelasnya.

Saat ini ada 20 orang murdinya yang aktif datang ke tempat pelatihan yang dibangunnya untuk belajar parkour. “Usia muridku dari 8 tahun hingga yang tertua 19 tahun.” jelasnya.

4. Bangun kampung kreatif di Bungur Metro

Muklis, Praktisi Parkour Banyak Prestasi, Kini Bangun Kampung Kreatifokezonenews.com

Selain melatih anak-anak aktivitas parkour kini Mukhlis bersama rekan-rekannya juga menggerakan para pemuda dan warga Kampung Bungur RW08/RT 48. Konsepnya, membangun wilayah menjadi kampung kreatif dengan nama kampung Bung Yos atau Bungur Yos Sudarso.

Di wilayah tempat tinggalnya, Mukhlis bersama warga setempat mulai menghiasi kampung dengan mural dan berbagai kerja bakti. Ia mengatakan, memiliki alasan sederhana aktif membangun kampung.

“Kami ingin membangun kampung kami menjadi kampung kreatif yang produktif guna mendorong perekonomian masyarakat,” katanya.

Baca Juga: Hari Guru Nasional, Taman Soemarno dan Pojok Baca Metro Diresmikan

Topic:

  • Martin Tobing

Berita Terkini Lainnya