Ilustrasi perang/konflik. (IDN Times/Aditya Pratama)
Salimi kemudian mencoba mengingat kembali masa-masa menegangkan saat berada di medan pertempuran. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia ditugaskan di Lampung sekitar tahun 1966 di masa berakhirnya pemberontakan G 30S PKI di Indonesia. Kemudian, di kirim ke Timor Leste pada saat itu disebut Timor Fortugis karena berada dibawah jajahan Fortugis sekitar tahun 1976 sampai 1977.
Kemudian, ia juga diperintahkan berangkat Kairo pada tahun 1978 menjadi Pasukan Perrdamaian Garuda 8 yang ke 8. Namun moment paling tak dilupakan menurutnya, saat menjadi pembela pengamanan di Timor-Timur selama 13 bulan.
“Ya hampir semua moment mencekam namanya kita berada di medan asing yang gak tau mana lawan mana kawan. Tapi kan prinsipnya pengorbanan lah. Pagi, siang, malam kita jaga jadi ya pasti kurang tidur, harus selalu siap siaga. Tapi tidak semua yang ke Timor itu jadi veteran, karena batas Juli-Agustus 1999 itu Timor Leste sudah Merdeka. Jadi berganti menjadi pasukan keamanan dalam negeri, karena dia sudah merdeka,” ujarnya.
Menurut Salimi, ada salah satu moment paling mencekam saat berada di Hatudo Timor-Timor untuk melakukan pengamanan jalan bagi Batalyon Cianjur yang akan pulang. Pada saat itu, ia bersama 11 anggota lainnya mengawasi dari atas ketinggian sebuah padang rumput yang tak memiliki pohon rindang untuk berlindung.
“Ketika itu matahari mulai terbit, kami berada di ketinggian mantau jalan yang buat lewat. Jadi musuh ini bisa dengan jelas melihat kita karena terkena sinar matahari dan tidak ada tempat berlindung, karena itu kan medan terbuka. Ketika ada tembakan, kita cuma bisa rebah, untungnya ada satu pohon di depan saya tapi itu juga roboh kena serangan peluru. Kita terjebak di situasi itu sekitar 2 jam, gak bisa berkutik cuma bisa berdoa dan inget rumah. Tiba-tiba datang kabut, yang membuat keberadaan kita sulit dilihat mereka, dari situ kita langsung melakukan serangan,” ceritanya.
Meski hampir semua situasinya memang mencekam, namun menurut Salimi ada juga satu moment sangat lucu bahkan hingga kini masih menjadi bahan obrolan saat menghubungi teman-teman perjuangannya dulu. Itu di saat sudah menyelesaikan tugas mengamankan jalan dari serangan, lalu mengira situasinya sudah aman, Salimi bersama anggota lainnya memutuskan untuk mandi di sungai.
“Jadi 26 orang itu bertahan di box pertahanan, kita 10 orang mandi di bawah. Ya biasa lah lima jaga, lima mandi. Saya ini termasuk yang mandi udah terlanjur bulat gak pakai apa-apa kan, tiba-tiba ada tembakan lagi. Jadi kita langsung lari ambil senjata. Itu yang bikin saya ketawa dan gak pernah lupa sampai sekarang,” selorohnya.