Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi pria (pexels.com/MART  PRODUCTION)
ilustrasi pria (pexels.com/MART PRODUCTION)

Intinya sih...

  • Pengalaman buruk seperti pengkhianatan atau kecelakaan dapat membuat seseorang selalu curiga dan sulit percaya pada orang lain.
  • Ketergantungan pada diri sendiri sejak kecil bisa membuat seseorang sulit untuk santai dan cenderung merasa harus selalu siap menghadapi kemungkinan terburuk.
  • Lingkungan yang penuh tekanan dan paparan informasi negatif juga dapat memperkuat kewaspadaan berlebihan seseorang.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam hidup, memiliki sikap waspada memang diperlukan untuk menghindari risiko dan menjaga diri dari hal-hal merugikan. Namun, jika kewaspadaan berubah menjadi sesuatu yang berlebihan, hal ini justru bisa menimbulkan stres dan membuat seseorang sulit merasa tenang.

Orang selalu hidup dalam kewaspadaan berlebihan cenderung selalu curiga, sulit percaya pada orang lain, dan merasa bahwa bahaya bisa datang kapan saja. Kewaspadaan yang terlalu tinggi biasanya tidak muncul begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang membentuk pola pikir seseorang.

Bisa berasal dari pengalaman buruk di masa lalu, lingkungan yang tidak mendukung, atau bahkan cara seseorang dibesarkan sejak kecil. Berikut adalah lima alasan mengapa seseorang bisa selalu hidup dalam kewaspadaan berlebihan.

1. Pengalaman buruk masa lalu

ilustrasi pria (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Salah satu alasan utama seseorang menjadi terlalu waspada adalah karena pernah mengalami pengalaman buruk meninggalkan trauma. Pengalaman seperti dikhianati, mengalami kecelakaan, atau menghadapi kejadian tidak menyenangkan bisa membuat seseorang merasa bahwa dunia adalah tempat yang penuh ancaman.

Misalnya, seseorang yang pernah mengalami pengkhianatan dalam hubungan mungkin akan lebih sulit percaya pada orang baru. Setiap interaksi akan selalu diiringi rasa curiga dan kewaspadaan yang tinggi, bahkan terhadap orang yang sebenarnya tulus.

Hal ini bisa menjadi mekanisme pertahanan untuk mencegah rasa sakit terulang kembali, tetapi di sisi lain juga bisa menghambat kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup.

2. Terbiasa mengandalkan diri sendiri

ilustrasi pria (pexels.com/Mikhail Nilov)

Orang selalu hidup dalam kewaspadaan berlebihan sering kali adalah mereka yang terbiasa mengandalkan diri sendiri sejak kecil. Jika seseorang tumbuh dalam lingkungan yang mengharuskan mereka mandiri dan tidak bisa sepenuhnya bergantung pada orang lain, mereka akan membangun mekanisme perlindungan diri yang kuat.

Ketakutan akan ketidakpastian dan kekhawatiran bahwa tidak ada yang benar-benar bisa diandalkan membuat mereka selalu bersiap menghadapi hal-hal buruk. Akibatnya, mereka sulit untuk santai dan cenderung merasa harus selalu siap menghadapi kemungkinan terburuk.

Meskipun sikap ini bisa membantu dalam beberapa situasi, terlalu bergantung pada diri sendiri tanpa memberi ruang untuk bantuan dari orang lain juga bisa melelahkan secara mental.

3. Lingkungan penuh tekanan dan ketidakpastian

ilustrasi pria (pexels.com/Alex Green)

Hidup dalam lingkungan penuh tekanan juga bisa menjadi penyebab seseorang selalu waspada. Jika seseorang terbiasa berada di situasi yang tidak stabil, seperti lingkungan kerja yang penuh persaingan tidak sehat, keluarga sering mengalami konflik, atau lingkungan sosial yang tidak bisa dipercaya, mereka akan mengembangkan kebiasaan untuk selalu berjaga-jaga.

Sebagai contoh, seseorang bekerja di tempat yang sering terjadi konflik atau manipulasi mungkin akan sulit merasa tenang. Mereka akan selalu berhati-hati dalam setiap interaksi, khawatir bahwa kesalahan sekecil apa pun bisa dimanfaatkan oleh orang lain.

Lama-kelamaan, pola pikir ini bisa terbawa ke dalam aspek kehidupan lainnya, membuat mereka sulit percaya bahkan pada orang-orang terdekat.

4. Terlalu banyak mengonsumsi informasi negatif

ilustrasi pria (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Di era digital seperti sekarang, informasi bisa dengan mudah diakses dari mana saja. Sayangnya, banyak orang tanpa sadar terus-menerus terpapar berita negatif tentang kejahatan, bencana, atau masalah sosial lainnya.

Jika seseorang terlalu sering mengonsumsi berita yang penuh ketakutan, mereka bisa mulai melihat dunia sebagai tempat yang berbahaya. Misalnya, seseorang yang sering membaca berita tentang kasus penipuan bisa menjadi sangat curiga terhadap setiap interaksi melibatkan transaksi atau kesepakatan.

Begitu pula dengan mereka sering melihat berita kriminal. Mereka bisa merasa di mana pun mereka berada, selalu ada ancaman yang mengintai. Paparan informasi negatif yang berlebihan bisa memperkuat kewaspadaan yang tidak selalu diperlukan dan membuat seseorang sulit merasa aman.

5. Rasa takut akan kehilangan kendali

ilustrasi pria (pexels.com/Oktay Köseoğlu)

Beberapa orang merasa kewaspadaan tinggi adalah satu-satunya cara untuk menjaga kendali atas hidup mereka. Mereka percaya jika selalu berhati-hati, bisa menghindari kejadian buruk dan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Namun, kenyataannya, tidak semua hal bisa dikendalikan, dan terus-menerus berusaha mengontrol segala sesuatu hanya akan membuat diri sendiri semakin stres. Ketakutan akan kehilangan kendali bisa membuat seseorang terlalu waspada dalam mengambil keputusan, terlalu berhati-hati dalam bertindak, bahkan sulit untuk menikmati momen-momen kecil dalam hidup.

Mereka merasa jika lengah sedikit saja, sesuatu yang buruk akan terjadi. Padahal, menerima ketidakpastian dan memahami tidak semua hal bisa dikendalikan adalah bagian penting dari hidup yang lebih tenang dan seimbang.

Kewaspadaan memang penting, tetapi jika berlebihan, hal ini justru bisa menghambat kebahagiaan dan membuat hidup terasa penuh tekanan. Pengalaman buruk di masa lalu, kebiasaan mengandalkan diri sendiri, lingkungan penuh tekanan, paparan informasi negatif, dan rasa takut akan kehilangan kendali adalah beberapa faktor yang bisa membuat seseorang terus hidup dalam kewaspadaan berlebihan.

Editorial Team