Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi wanita membaca buku (freepik.com/jcomp)
Ilustrasi wanita membaca buku (freepik.com/jcomp)

Intinya sih...

  • Kota Bandar Lampung mencatatkan tingkat kegemaran membaca tertinggi di Provinsi Lampung dengan skor 78,71.
  • Masyarakat rata-rata membaca 5-6 kali per minggu, durasi 1-2 jam per sesi, dan jumlah buku dibaca 5-6 buku.
  • Akses internet yang tinggi mendukung kebiasaan membaca masyarakat melalui artikel daring, e-book, dan media sosial edukatif.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Di era saat ini, budaya membaca merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat cerdas dan melek informasi. Apalagi di era digital, membaca tidak hanya dilakukan lewat buku fisik, tetapi juga melalui media digital yang semakin mudah diakses.

Provinsi Lampung sebagai bagian dari Sumatra memiliki geliat literasi terus berkembang. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung mengenai tingkat kegemaran membaca di berbagai daerah, tercatat ada lima kabupaten/kota di Lampung menunjukkan skor tertinggi. Menariknya, daerah-daerah ini tidak hanya unggul dari segi frekuensi dan durasi membaca, tetapi juga dalam hal jumlah buku dibaca serta intensitas penggunaan internet sebagai sumber literasi tambahan.

Berikut ini IDN Times akan memberikan informasi seputar lima daerah di Provinsi Lampung dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi. Yuk simak, siapa tahu ada daerah kamu.

1. Kabupaten Lampung Selatan

ilustrasi membaca buku (pexels.com/kaboompics.com)

Di urutan kelima ada Kabupaten Lampung Selatan dengan tingkat kegemaran membaca sebesar 70,07. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Kota Bandar Lampung, sehingga membuatnya mendapat limpahan akses infrastruktur dan fasilitas literasi dari ibukota provinsi.

Luas wilayah Lampung Selatan mencapai 2.109,74 km² dan dihuni oleh sekitar 923.002 jiwa. Berdasarkan data BPS Lampung, masyarakat Lampung Selatan cukup aktif membaca, dengan frekuensi 5 hingga 6 kali per minggu dan durasi membaca sekitar 1 hingga 2 jam. Buku yang dibaca berkisar antara 3 hingga 4 buku, serta frekuensi akses internet yang tinggi, menunjukkan kombinasi seimbang antara literasi cetak dan digital.

Keberadaan taman baca masyarakat, pojok baca di sekolah, hingga program literasi desa menjadi upaya nyata dalam memperluas minat baca masyarakat. Lampung Selatan membuktikan akses terhadap literasi tidak hanya dimiliki oleh kota besar, tapi juga bisa merata di daerah kabupaten dengan pengelolaan baik.

2. Kabupaten Tulang Bawang

ilustrasi membaca (unsplash/Priscilla Du Preez)

Kabupaten Tulang Bawang menempati urutan keempat dengan skor kegemaran membaca 72,36. Kabupaten yang dikenal dengan julukan “Negeri Seribu Megow” ini memiliki luas wilayah sekitar 3.466,32 km² dan dihuni oleh sekitar 430.021 jiwa.

Meski wilayahnya didominasi oleh kawasan pedesaan dan perairan, semangat membaca di kalangan masyarakatnya tetap tinggi. Berdasarkan data BPS Lampung, warga Tulangbawang membaca 5 hingga 6 kali per minggu, berdurasi 1 hingga 2 jam per sesi. Jumlah buku dibaca berkisar antara 3 hingga 4 buku, sedikit lebih rendah dari beberapa daerah lain, namun tetap menunjukkan minat positif.

Akses terhadap internet juga cukup baik, sehingga membantu masyarakat mendapatkan bahan bacaan digital. Pemerintah daerah Tulang Bawang terus berupaya meningkatkan literasi melalui penyediaan fasilitas baca, pelatihan literasi digital, dan program sekolah literat menjangkau hingga ke kampung-kampung.

3. Kabupaten Lampung Tengah

ilustrasi pria membaca buku (freepik.com/ArthurHidden)

Kabupaten Lampung Tengah menempati urutan ketiga dengan skor kegemaran membaca yakni sebesar 72,76. Dengan luas wilayah mencapai 4.559,57 km² dan jumlah penduduk sekitar 1.508.331 jiwa, Lampung Tengah menunjukkan budaya literasi bisa tumbuh subur di daerah dengan cakupan wilayah besar.

Berdasarkan data BPS Lampung, masyarakat Lampung Tengah terbiasa membaca sebanyak 5 hingga 6 kali per minggu dengan durasi membaca sama seperti daerah perkotaan, yakni antara 1 hingga 2 jam. Jumlah buku dibaca pun tergolong tinggi, mencapai 5 hingga 6 buku.

Selain itu, masyarakat Lampung Tengah juga aktif mengakses internet dalam frekuensi dan durasi tinggi, memperkuat keterpaparan terhadap berbagai sumber bacaan digital. Dukungan terhadap literasi di daerah ini hadir dalam bentuk pengembangan perpustakaan daerah, mobil perpustakaan keliling, serta kegiatan baca bersama di sekolah dan komunitas desa.

4. Kota Metro

ilustrasi pria membaca buku (freepik.com/freepik)

Kota Metro menyusul di posisi kedua dengan skor kegemaran membaca sebesar 78,43. Kota kecil ini dikenal luas sebagai kota pendidikan, dan hal itu tercermin dari antusiasme masyarakat terhadap kegiatan literasi.

Dengan luas wilayah sekitar 68,74 km² dan populasi sekitar 180.280 jiwa, Metro menjadi contoh nyata ukuran wilayah bukan penentu rendahnya minat baca. Masyarakat Metro memiliki kebiasaan membaca cukup tinggi. Berdasarkan data BPS Lampung, masyarakat Metro membaca sebanyak 5 hingga 6 kali per minggu, berdurasi 1 hingga 2 jam setiap kalinya. Jumlah buku dibaca pun menyamai Kota Bandar Lampung, yaitu 5 hingga 6 buku.

Akses internet juga sangat intensif di kalangan masyarakat Metro, mendukung kegiatan membaca digital. Pemerintah daerah aktif menyelenggarakan kegiatan literasi melalui taman baca, kelas literasi di sekolah, serta kampanye melalui media lokal dan komunitas pemuda yang bergerak di bidang literasi.

5. Kota Bandar Lampung

ilustrasi pria membaca buku (freepik.com/jcomp)

Menempati posisi pertama, Kota Bandar Lampung sebagai ibukota provinsi mencatatkan tingkat kegemaran membaca tertinggi di Provinsi Lampung dengan skor 78,71. Kota ini merupakan pusat pemerintahan sekaligus pusat pendidikan di provinsi ini.

Dengan luas wilayah 183,77 km² dan jumlah penduduk lebih dari 1,1 juta jiwa, tidak mengherankan jika geliat literasi di Bandar Lampung sangat tinggi. Masyarakat di kota ini rata-rata membaca 5 hingga 6 kali per minggu dengan durasi membaca antara 1 hingga hampir 2 jam per sesi.

Selain itu, jumlah buku dibaca juga mencapai 5 hingga 6 buku dalam periode tertentu. Tingginya akses terhadap internet, baik dari sisi frekuensi maupun durasi pun mendukung kebiasaan membaca masyarakat, baik melalui artikel daring, e-book, maupun media sosial edukatif.

Peran pemerintah kota dalam membangun fasilitas seperti taman baca, perpustakaan kota dan provinsi, dan program literasi sekolah menjadi salah satu kunci keberhasilan kota ini dalam mengembangkan budaya membaca.

Editorial Team