Comscore Tracker

Tips Atasi Demam Anak, Kenali Tandanya Ketika Jadi Bahaya

Perhatikan aktivitas anak saat sedang demam, ya Bunda

Bandar Lampung, IDN Times - Demam merupakan keluhan yang paling sering ditemui pada anak-anak. Gak jarang, demam juga bikin orangtua khawatir. 

Dokter anak Dhania Patra memberikan penjelasan mengenai demam ini dan kapan orangtua patut khawatir dan harus membawa anak ke dokter.

Suhu tubuh normal seorang anak, menurut dia,  berkisar antara 36,5 hingga 37 C. "Demam merupakan respons tubuh terhadap rangsangan yang datang dari luar atau dalam. Salah satunya adalah infeksi," kata dokter yang bertugas di Rumah Sakit Advent Bandar Lampung itu, Jumat (30/7/2021).

Akan tetapi menurutnya, tidak semua demam disebabkan oleh infeksi. Infeksi bisa disebabkan oleh virus maupun bakteri, namun sebagian besar infeksi disebabkan oleh virus yang tidak memerlukan antibiotik.

Baca Juga: Waspada! BOR di RS Lampung Utara 94,1 Persen, Tertinggi di Lampung

1. Ada banyak faktor penyebab demam

Tips Atasi Demam Anak, Kenali Tandanya Ketika Jadi BahayaPixabay/Victoria_Borodinova

Dhania menjelaskan, tingginya demam tidak selalu menandakan beratnya penyakit. Penggunaan baju yang tebal atau membedong pada udara yang panas dapat meningkatkan suhu tubuh di atas normal, namun tidak terlalu tinggi.

Menurutnya, demam juga dapat ditemui setelah anak pascaimunisasi. Pada sebagian besar anak, demam dapat diobservasi di rumah.

"Akan tetapi, orangtua perlu mengetahui kapan saat yang tepat membawa anak yang demam ke dokter," jelasnya.

2. Jangan asal kompres, ya Bunda

Tips Atasi Demam Anak, Kenali Tandanya Ketika Jadi BahayaPixabay/guvo59

Menurut  Dhania, kompres dingin tidak direkomendasikan untuk mengatasi demam pada anak. Ini justru meningkatkan pusat pengatur suhu (set point) di otak anak, yang menyebabkan badannya jadi menggigil dan suhu tubuh justru semakin naik.

Selain itu mengompres dengan etil alkohol atau isopropil alkohol juga tidak disarankan lho, karena tidak efektif menurunkan demam.

"Jika alkohol terhirup anak selama kompres justru berbahaya karena bisa menimbulkan hipoglikemia dan koma," terangnya.

3. Perhatikan aktivitas anak saat demam

Tips Atasi Demam Anak, Kenali Tandanya Ketika Jadi Bahayailustrasi demam (IDN Times/Mardya Shakti)

Lebih lanjut Dhania menjelaskan saat anak demam sebaiknya diperhatikan aktivitasnya secara umum. Apakah masih bisa bermain, bisa makan dan minum dengan baik dan buang air kecil setiap 3-4 jam.

" Jadi untuk penurunan suhu tubuh dapat dibantu dengan penggunaan obat penurun panas (antipiretik), terapi fisik (nonfarmakologi) seperti istirahat baring, kompres hangat, dan banyak minum," paparnya.

Menurutnya, tujuan utama pemberian obat penurun panas adalah membuat anak nyaman, dan mengurangi rasa nyeri. Namun, penggunaan kombinasi antipiretik parasetamol dan ibuprofen secara bergantian tidak dianjurkan.

4. Beri obat penurun panas, baru kompres anak

Tips Atasi Demam Anak, Kenali Tandanya Ketika Jadi BahayaIlustrasi anak demam. freepik.com/prostooleh

Dhania juga menyarankan mengompres di lipat ketiak dan selangkangan selama 10-15 menit membantu menurunkan panas dengan cara panas keluar lewat pori-pori kulit melalui proses penguapan.

"Penting untuk memberikan obat penurun panas terlebih dahulu untuk menurunkan pusat pengatur suhu di otak bagian hipotalamus, kemudian dilanjutkan kompres air hangat," kata dia.

5. Lalu kapan membawa anak ke dokter?

Tips Atasi Demam Anak, Kenali Tandanya Ketika Jadi Bahayailustrasi pemeriksaan dokter (freepik.com/jcomp)

Secara umum semua usia anak saat demam harus dibawa ke dokter jika suhunya lebih dari 40°C dan mengalami kejang. Orangtua juga perlu waspada ketika anak demam berulang lebih dari 7 hari walaupun demam hanya berlangsung beberapa jam saja.

"Anak semua usia dengan penyakit jantung, kanker, lupus, penyakit ginjal atau yang demam disertai ruam harus di bawa ke dokter," tukas Dhania.

Selain itu anak juga harus di bawa ke dokter jika timbul gejala seperti tidak merespons, susah dibangunkan atau tidak bisa bergerak, kemudian, kesulitan bernapas.

"Bibir, lidah dan kuku nampak kebiruan, ubun-ubun terlihat membonjol atau, cekung, ada kekakuan di leher serta nyeri kepala hebat itu merupakan tanda-tanda bahaya," ungkapnya.

Baca Juga: Lampung Kurang 14 Juta Vaksin COVID-19, Kementerian BUMN Bilang Ini

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya