Comscore Tracker

Paslon Pilkada Nilai Kampanye Daring Tak Efektif Raup Suara Pemilih

Paslon klaim calon pemilih ogah habiskan kuota internet

Tercatat sejak 26 September 2020 lalu, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) telah memasuki tahap kampanye pasangan calon (Paslon). Karena pelaksanaan Pilkada berlangsung di tengah pandemik COVID-19, Komisi Pemilihan Umum (KPU) merekomendasikan kampanye penyampaian visi dan misi calon dilaksanakan secara online atau daring.

Hanya saja tim pemenangan masing-masing calon di sejumlah daerah di Bali maupun provinsi lainnya di Indonesia lebih memilih kampanye secara tatap muka. Mereka beralasan kampanye daring kurang efektif serta banyak yang mengalami kendala sinyal internet. 

Sebelumnya, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI mencatat bahwa sejumlah daerah yang ikut di Pilkada Serentak 2020, masih menggelar kampanye tatap muka. Hal itu diduga berdampak pada penambahan kasus COVID-19.

Dalam keterangan pers, Rabu (7/10/2020), data Bawaslu mencatat bahwa sebanyak 256 kabupaten/kota (95 persen) yang ikut Pilkada Serentak 2020 menggelar kampanye terbuka. 

"Hanya 14 kabupaten/kota  atau 5 persen yang tidak terdapat kampanye tatap muka pada 10 hari pertama tahapan Kampanye," demikian tertuang dalam keterangan pers itu. 

Di 256 kabupaten/kota tersebut, terdapat 9.189 kegiatan kampanye dengan metode tatap muka (pertemuan terbatas). Dalam pengawasannya terhadap ribuan kampanye itu, Bawaslu menemukan 237 dugaan pelanggaran protokol kesehatan di 59 kabupaten/kota.

Atas pelanggaran tersebut, dilakukan tindakan pembubaran terhadap sebanyak 48 kegiatan. Selain itu, Bawaslu juga melayangkan sebanyak 70 surat peringatan tertulis. 

“Sistem daring lebih dianjurkan. Karena melaksanakan tatap muka langsung harus dilakukan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Apabila paslon melanggar protokol kesehatan, Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) bisa menindak,” ujar Ketua KPU Karangasem, Gede Krisna Adi Widana, Kamis (8/10/2020).

Sampai saat ini dua paslon bupati dan wakil bupati Karangasem, Bali memilih kampanye tatap muka. Seperti yang diungkapkan oleh Ketua Harian Tim Pemenangan Pasangan Nadi (Gede Dana-Artha Dipa), I Wayan Swastika. Ia mengakui bahwa untuk sementara ini masih melaksanakan kampanye tatap muka.

"Setiap hari kami turun ke delapan titik lokasi untuk kampanye tatap muka," jelas Swastika, Rabu (7/10/2020).

Ternyata tidak hanya mereka yang lebih memilih untuk melakukan kampanye tatap muka. Hal serupa pun dilakukan oleh pasangan calon lainnya di Bali dan sejumlah provinsi di Indonesia. Berikut hasil penelusuran tim IDN Times. 

1. Paslon GiriAsa di Badung siapkan dana Rp1 miliar

Paslon Pilkada Nilai Kampanye Daring Tak Efektif Raup Suara PemilihPaslon GiriAsa, paslon tunggal di Kabupaten Badung (Dok.IDN Times/istimewa)

Paslon tunggal GiriAsa di Kabupaten Badung, Bali masih memilih untuk memaksimalkan kampanye secara tatap muka. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua KPU Kabupaten Badung, I Wayan Semara Cipta kepada IDN Times Jumat (9/10/2020). 

Menurut Wayan Semara Cipta, untuk kampanye daring, tim paslonlah yang membuat link-nya dan melaporkan kapan pelaksanaan kampanye daring dengan konstituennya. Pola kampanye daring ini ia sebut semacam memberikan link zoom.

Ia menambahkan, kampanye metode daring dan media sosial ini merupakan persoalan kebiasaan saja. Dalam situasi pandemik ini tentu jika melihat ke kebiasaan bertemu tatap muka saat kampanye, akan merasa ada yang kurang saat melakukan kampanye dalam bentuk daring.

“Malah informasi yang saya dapat dari Tim Lo-nya (Liaison Officer), mereka akan memaksimalkan dengan ini, pertemuan terbatas tatap muka. Lebih banyak di sana. Tapi kemarin sudah berapa kali juga kami sampaikan mendorong ya kalau tatap muka terbuka itu kan pembatasan 50 orang. Ya lumayan gerakannya, kan beberapa kali itu. Tapi kalau daring kan sekali daring bisa 500. Memang kendalanya adalah berkaitan dengan jaringan ya,” imbuhnya.

Sementara itu disinggung besaran dana kampanye paslon tunggal GiriAsa, Wayan Semara Cipta mengungkapkan bahwa ada satu kegiatan dalam kampanye di mana pelaporan dana kampanye harus dilakukan setiap paslon. Melalui aplikasi khusus untuk pencatatan dana kampanye ini yang disebut Sistem Informasi Dana Kampanye (Sidakam).

Pelaporan dana kampanye ini mulai dari awal hingga akhir kampanye. Nah, paslon tunggal GiriAsa sendiri telah melaporkan dana awal kampanye mencapai Rp1 miliar.

2. Paslon Jaya-Wira susah raup suara di pedesaan jika dengan kampanye online

Paslon Pilkada Nilai Kampanye Daring Tak Efektif Raup Suara PemilihRombongan Paslon Jaya Wira saat tiba untuk mendaftar di KPU Tabanan Jumat (04/09/2020) (IDNTimes/Wira Sanjiwani)

Liaison officer (LO) paslon nomor urut 1 dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Komang Gede Sanjaya-I Made Edi Wirawan (Jaya-Wira) di Tabanan, I Gusti Nyoman Omardani, mengakui kampanye secara online tidak terlalu efektif untuk menarik minat masyarakat. Terutama pemilih di pelosok yang lebih banyak berkutat pada pekerjaan buruh tani, petani, atau orang tua yang tidak terlalu akrab dengan IT.

"Tetapi kampanye model ini efektif menjaring generasi millennial ataupun pegawai," kata Omardani, Rabu (7/10/2020). "Setiap kader memanfaatkan grup WA (WhatsApp), Facebook dan media sosial lainnya untuk mensosialisasikan dan mengajak untuk memilih paslon kita," imbuhnya.

Sementara untuk menjangkau pemilih yang awam dengan teknologi apalagi medsos, tim Jaya-Wira mengambil langkah kampanye secara tatap muka dengan jumlah terbatas.

"Kami batasi peserta maksimal 50 orang, wajib memakai masker, jarak tempat duduk minimal 1,5 meter. Di lokasi, kami sediakan alat pengukur suhu tubuh dan alat cuci tangan," ungkap Omardani.

Selain itu, langkah lainnya adalah mengoptimalkan pergerakan struktur partai atau mesin partai dengan menyebarkan bahan kampanye berupa stiker, brosur, masker, hands sanitizer yang bisa dilaksanakan secara door to door dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Guna mencegah terjadinya pelanggaran prokes COVID-19 selama kampanye, pihaknya  membentuk tim penegak disiplin protokol COVID-19.

3. Paslon di Bantul nilai kampanye daring hanya konsep di awang-awang saja

Paslon Pilkada Nilai Kampanye Daring Tak Efektif Raup Suara PemilihMetode Kampanye Pilkada 2020 (IDN Times/Sukma Shakti)

‎Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Bawaslu Kabupaten Bantul juga telah mendorong pihak kedua pasangan calon (paslon) Bupati dan Wakil Bupati melakukan kampanye secara daring atau online. Namun, belum ada satu pun tim sukses paslon atau relawan yang melaksanakan imbauan dari lembaga penyelenggara pilkada tersebut hingga hari ke delapan masa kampanye.

Sekretaris Tim Pemenanganan paslon nomor urut 1, Abdul Halim Muslih-Joko Purnomo, Rajut Sukasworo mengaku semenjak masa kampanye pilkada dilaksanakan pada tanggal 26 September 2020 hingga Sabtu (3/10/2020), pihaknya tidak pernah melaksanakan kampanye dengan sistem daring.

"Sama sekali belum menggunakan kampanye daring. Kalau mau kampanye daring itu sasarannya siapa? Yang mau ikut mendengarkan kampanye daring itu kan massa militan, jadi justru tidak efektif karena tidak akan menambah pemilih," katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (3/10/2020).

Kampanye, kata Rajut, untuk mendapatkan dukungan dan penambahan suara sebanyak-banyaknya dari masyarakat tanpa masyarakat mengeluarkan biaya. Dengan kampanye daring masyarakat harus mengeluarkan biaya untuk membeli pulsa dan itu pasti enggan dilakukan oleh masyarakat.

"Secara teknologi dengan kampanye daring, kita sangat siap. Namun kalau yang disasar enggan mendengarkan atau melihat kampanye yang dilakukan paslon, ya sia-sia," ungkapnya.

"Paling banyak kita membuat konten-konten kampanye yang kemudian di-share melalui akun media sosial yang efektivitasnya sekitar 40 persen saja," tambahnya lagi.‎

Dengan kondisi pendemik seperti saat ini seharusnya KPUD dan Bawaslu Bantul memberikan kebebasan kepada tim pemenangan paslon untuk memasang alat peraga kampanye di berbagai pelosok agar masyarakat mengetahui visi dan misi paslon serta menghindarkan kegiatan yang berpotensi terjadinya kerumunan masa.

"Karena kampanye daring sangat tidak efektif dilakukan, yang diperbanyak alat peraga kampanye di berbagai pelosok. Selain itu tim pemenangan paslon Bupati dan Wakil Bupati Bantul nomor urut 1 lebih banyak melakukan kampanye ke pasar-pasar dan menggelar kegiatan tatap muka dengan jumlah peserta yang dibatasi," ungkapnya.

Sementara Sekretaris Tim Pemenangan paslon nomor urut 2, Suharsono-Totok Sudarto, Darwinto mengatakan kampanye daring yang digagas KPUD dan Bawaslu Bantul pada tataran konsep sangat bagus di masa pandemik seperti saat ini. Namun, dalam pelaksanaan di lapangan sangat sulit dilakukan bahkan sama sekali tidak efektif.

"Kampanye daring itu kan sasaran sudah jelas orang-orangnya (pendukung). Padahal kampanye untuk menarik orang yang belum punya pilihan untuk memilih paslon yang kita usung. Jadi kampanye daring ini hanya konsep di awang-awang saja," ungkapnya.

Darwin mencontohkan siswa yang sekolah secara daring pun saat ini sudah mulai bosan dengan sistem belajar daring. Di sisi lain kampanye secara daring juga boros bagi masyarakat karena harus mengeluarkan uang untuk beli kuota.

"Kampanye daring itu hanya untuk yang militan saja dan itu sangat tidak efektif untuk mendapatkan dukungan suara dari masyarakat yang belum menentukan pilihan. Apalagi harus keluar duit untuk beli kuota. Mana mau masyarakat keluar duit hanya untuk mendengarkan kampanye," terangnya.

4. Paslon di Sleman harus bangun strategi baru

Paslon Pilkada Nilai Kampanye Daring Tak Efektif Raup Suara PemilihInfografis Peraturan Materi Debat Pilkada 2020 (IDN Times/Sukma Shakti)

Pandemik COVID-19 juga membuat peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sleman 2020 harus memutar otak untuk menyusun strategi baru dalam melakukan kampanye. Paslon nomor urut 1, Danang Wicaksana Sulistyo-Agus Choliq mengaku sedang menyusun agenda yang memungkinkan dilakukan kampanye saat pandemik COVID-19.

"Masih merancang agenda-agenda yang memungkinkan dan efektif," ungkapnya pada Kamis (1/10/2020).

Sementara itu, paslon nomor urut 2, Sri Muslimatun-Amin Purnama mengaku memilih melakukan silaturahmi politik sebagai cara menyiasati regulasi yang telah ditetapkan. Amin Purnama mengatakan saat melakukan silaturahmi, pihaknya berupaya memaksimalkan upaya berdialog langsung, namun tidak berkerumun.

"Meski demikian kami ke mana-mana pakai masker, protokol kesehatan pencegahan COVID-19 kami laksanakan, tapi sifatnya silaturahmi. Tiap hari kami komunikasi dan silaturahmi kepada tokoh," terangnya.

Sementara itu untuk paslon nomor urut 3, Kustini Sri Purnomo-Danang Maharsa menjelaskan pihaknya memilih mengoptimalkan media sosial serta pertemuan virtual dengan warga untuk tetap menaati protokol kesehatan. Langkah optimalisasi media sosial dan pertemuan virtual juga dipilih untuk mewujudkan kampanye yang mengikuti aturan PKPU.

"Sebenarnya masyarakat itu lebih senang tatap muka. Ada masyarakat yang mereka merasa lebih mantap tatap muka, ada juga masyarakat yang daerahnya belum terjangkau internet, gaptek dan sebagainya. Jadi kita harus berpikir seperti itu, maka kami juga mobile terus," papar Danang.

5. Paslon Bobby Nasution-Aulia Rachman di Medan juga belum lakukan kampanye daring

Paslon Pilkada Nilai Kampanye Daring Tak Efektif Raup Suara PemilihSalah satu Pasangan Calon Pilkada Kota Medan, Bobby Nasution dan Aulia Rachman (IDN Times/ Indah Permata Sari)

Di Medan, dua pasangan calon yakni Akhyar Nasution-Salman Alfarisi nomor urut 1 dan Bobby Nasution-Aulia Rachman nomor urut 2 belum melakukan kampanye daring. Keduanya beberapa kali melakukan kampanye tatap muka. Bahkan ada yang mendapat teguran Bawaslu.

“Kita masih melakukan kampanye tatap muka dengan standar COVID-19, kemudian tentunya juga menggunakan media-media baik itu sosial dan elektronik untuk menjabarkan atau menginformasikan program yang kita lakukan. Kegiatan-kegiatan yang sudah kita lakukan sehingga masyarakat mengetahui kegiatan itu dan mudah-mudahan simpatik pada pasangan AMAN,” ucap Calon Wakil Wali Kota Medan, Salman Alfarisi, Jumat (9/10/2020).

Menurut Salman, teknologi semakin maju. Memungkinkan kampanye dilakukan secara virtual. “Saya rasa tidak ya. Karena teknologi digital terutama di kota sudah sangat marak, ya memang ada keterbatasan mungkin dengan melalui teknologi digital kita bisa memberikan informasi kepada masyarakat yang sudah melek teknologi digital. Kemudian bagi masyarakat yang tentunya belum familiar dengan teknologi digital kita mengadakan pertemuan-pertemuan offline yang terbatas, sesuai standar COVID-19,” katanya.

Sementara itu, pihak tim pemenangan Paslon nomor urut 1 yakni, Ibrahim Tarigan siap menerima jika ada arahan dari KPU Medan kepada paslon nomor urut 1 ini nantinya. Ibrahim mengatakan sebenarnya kampanye daring kurang efektif. Apalagi dia sulit melihat respons masyarakat. Pihaknya lebih senang kampanye tatap muka. Untuk saat ini sudah 300-an tim relawan yang ikut mendaftar.

“Hanya mungkin beberapa elemen saja. Seperti kondisi sekarang ini orang kan melihat banyak hal seperti ekonomi yang sedikit terganggu. Galau-galau kita, mau ke mana-mana agak terbatas,” tuturnya.

Menurutnya, jika nanti KPU Medan sudah melakukan informasi atau sosialisasi kepada pihak Paslon, maka paslon nomor urut 1 siap untuk lakukan kampanye daring.

“Kalau sudah begitu aturannya kita ikut. Artinya sekarang zaman teknologi dan ya kondisi sekarang jumpa-jumpa ini terbatas gak ada masalah. Cuma masyarakat siap tidak menerima kondisi itu, yang penting aman-aman saja ya kan,” ungkapnya.

“Harapannya disegerakan kalau memang akan lakukan kampanye daring dikarenakan waktu singkat. Kami harus berpacu dengan aktivitas lainnya. Semua harus melakukan persiapan untuk bisa cepat disosialisasikan kepada masyarakat,” tambahnya.

6. Paslon Gibran-Teguh luncurkan virtual campaign box

Paslon Pilkada Nilai Kampanye Daring Tak Efektif Raup Suara PemilihKampanye Paslon Gibran-Teguh dengan menggunakan virtual box keliling kampung untuk berdialog dengan warga. Dok.Gibran Rakabuming Raka

Pembatasan kampanye oleh KPU tak menyurutkan semangat pasangan calon (paslon) Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa untuk merancang blusukan online untuk kegiatan kampanye, Sabtu (26/9/20). Paslon Gibran-Teguh memiliki ide kreatif dengan meluncurkan virtual campaign box atau kotak kampanye virtual yang bisa dibawa kemana-mana.

Paslon nomor urut 1 tersebut menggunakan layar televisi plasma 49 ini yang disambungkan dengan jaringan internet yang dapat menampilkan wajah Gibran untuk menyapa para masyarakat.

Alat tersebut terdiri dari layar televisi, laptop, speaker, mikrofon, modem internal, hingga aki untuk bahan bakar pengganti listrik. Tak lupa virtual campaign box tersebut juga dipasang dua poster Gibran-Teguh.

Meski tidak berada di lokasi, Gibran dapat berkeliling kampung Bonorejo, Nusukan, Solo dan bertemu dengan para warga. Gibran mengaku cara tersebut dilakukan oleh tim kampanyenya. Dengan begitu ia bisa tetap melakukan blusukan di masa pandemi COVID-19 ini.

"Jadi tetap bisa berinteraksi secara live," kata Gibran. Masyarakat bisa berkomunikasi langsung dengannya. "Bisa tanya visi misi, memberi masukan, kritik serta saran," ujar putra sulung Presiden Jokowi tersebut.

Dalam kampanye tersebut, Gibran juga mencatat semua keluhan dan masukan yang disampaikan warga saat menyapa lewat kotak virtual itu. Setiap masukan dan keluhan yang disampaikan warga akan dicarikan solusinya dalam waktu dekat agar bisa terselesaikan.

“Prioritas saya adalah percepatan pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19,” katanya.

Sementara BAJO memilih untuk melakukan kampanye secara door to door, ia menganggap kampanye tersebut lebih memiliki chemistry dengan masyarakat. Selain itu, pihaknya juga akan melakukan kampanye secara virtual yang digerakkan oleh para relawan yang tergabung dalam barisan Tikus Pithi.

"Iya tetap door to door karena kita itu lebih memiliki chemistry ya dengan warga," ungkapnya.

Pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota, Bagyo Wahyono-FX Supardjo (BAJO) akan membuka donasi dana kampanye. Hal ini dilakukan mengingat dua paslon tersebut tidak memiliki banyak harta untuk mengelar kampanye secara berkesinambungan.

Sebagai calon independen, ia berharap bantuan dari warga masyarakat yang selama ini apatis terhadap partai politik (Parpol) agar bisa membantu dirinya untuk melakukan kampanye. Ia mengaku bahwa dirinya lahir dan besar dari rakyat biasa.

Baca Juga: Lonjakan Kasus COVID-19 di Depan Mata  Bila Pilkada Tetap Digelar

7. Paslon di Kota Semarang siapkan puluhan perangkat digital

Paslon Pilkada Nilai Kampanye Daring Tak Efektif Raup Suara PemilihIlustrasi pilkada serentak (IDN Times/Mardya Shakti)

Pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi dan Hevearita G Rahayu menyiapkan puluhan perangkat digital untuk dibawa berkeliling ke seluruh wilayah Kota Semarang.

Penggunaan perangkat digital ini untuk sarana sosialisasi secara virtual, karena proses kampanye pilkada digelar saat masa pandemik. Tak hanya menampilkan materi sosialisasi untuk dapat mengajak masyarakat mencoblos pasangan calon petahana, perangkat digital itu juga digunakan sebagai media menyambung komunikasi Hendi-ita dan masyarakat.

Ketua Tim Pemenangan Hendi-Ita, Kadarlusman, mengatakan perangkat digital yang digunakan bervariasi, mulai dari layar digital yang ditempel pada sejumlah mobil, perangkat interaktif yang diletakkan di posko pemenangan, hingga perangkat komunikasi mobile yang akan tersambung ke paslon secara online.

"Sebenarnya sesuai yang sudah disampaikan Mas Hendi, tim sudah bergerak door to door untuk menyukseskan Pilwalkot 9 Desember 2020. Jadi penggunaan perangkat digital ini untuk back up pergerakan teman - teman," ungkapnya melalui keterangan resmi, Selasa (29/9/2020).

Selain memaksimalkan penggunaan perangkat digital, pasangan calon Hendi-Ita tetap akan menghadiri kegiatan masyarakat yang sesuai dengan Peraturan KPU. "Kita nanti akan tetap lakukan diskusi dan dialog, namun dengan batasan-batasan yang berlaku. Sehingga, jangan sampai nanti ada yang bereuforia," tegas Sekretaris PDIP Kota Semarang itu.

8. Ketua Bawaslu Provinsi Lampung telah berikan lima surat peringatan

Paslon Pilkada Nilai Kampanye Daring Tak Efektif Raup Suara PemilihSanksi Bagi Calon Kepala Daerah yang Melanggar selama Pilkada 2020 (IDN Times/Sukma Shakti)

Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Lampung mencatat belum ada pasangan calon (paslon) kepala daerah memanfaatkan kampanye dialog daring kepada para pendukungnya. Itu terhitung sejak hari pertama masa kampanye 26 September hingga 6 Oktober 2020.

Ketua Bawaslu Provinsi Lampung, Fatikhatul Khoiriyah, mengatakan, kampanye daring diatur dalam pasal 57 PKPU Nomor 13 Tahun 2020. Tujuan kampanye itu untuk mengeliminir terjadinya penumpukan massa karena kondisi saat ini masih terjadi pandemik COVID-19.

Imbas kondisi tersebut, imbuhnya, para pengawas pemilu mengerahkan energi ekstra terkait pengawasan penerapan protokol kesehatan COVID-19. Kondisi itu terjadi lantaran para paslon masih memilih kampanye secara tatap muka bertemu masyarakat.

Bawaslu Provinsi Lampung menyatakan ada lima surat peringatan diberikan kepada paslon terkait pelanggaran protokol COVID-19. Rinciannya, Bawaslu Kota Bandar Lampung mengeluarkan empat surat peringatan dan Bawaslu Kabupaten Pesisir Barat mengeluarkan satu surat peringatan dan bersama Tim Gakumdu melakukan satu kali pembubaran kampanye tatap muka.

Sorotan lainnya dilakukan Bawaslu adalah masih banyak paslon tidak memiliki Surat Tanda Terima Pemberitahuan (STTP) kampanye dari kepolisian. Para paslon itu tetap nekat melakukan kampanye tatap muka kepada para pendukungnya.

“Saat didatangi pengawas pemilu, paslon atau tim kampanye beralasan mereka bukan kampanye melainkan hanya melakukan konsolidasi dan sosialisasi terbatas.  Ïni kan sebenarnya akal-akalan paslon atau tim pemenangan. Harusnya mereka mengantongi STTP sebelum melakukan kampanye tatap muka,”  ujar Fatikhatul.

Kampanye daring menyampaikan visi misi kepada masyarakat idealnya dimanfaatkan para paslon selama periode kampanye Pilkada 2020. Itu tak lain masih tingginya kasus pandemik COVID-19 di Provinsi Lampung.

Hal itu disampaikan akademisi Fakultas llmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung Dr Hartanto. ​​​​Menurutnya, ​​​kampanye daring melalui media sosial salah satu alternatif paslon. Itu ditopang efisien, akses internet yang memadai dan pelanggaran terhadap protokol kesehatan dapat ditekan minimal.

“Model kampanye seperti ini (daring) salah satu sarana menyampaikan visi dan misi paling mudah dan murah di masa pandemi. Tapi mereka harus kreatif dan berinovasi. Di era media sosial, konten adalah segalanya. Konten positif yang bagus akan menarik para pemilih.

Hartanto menjelaskan, membuat konten kreatif, tim pemenangan Pilkada para paslon dapat menyewa para ahli teknologi dan informasi. Untuk membuat konten bagus baik di Facebook, WhatsApp, Instagram dan sebagainya. “Tapi bukan sewa buzzer ya dalam artian, sewa tim ahli IT,” paparnya.

9. Paslon di Banten sebut banyak calon pemilih tak tahu aplikasi zoom

Paslon Pilkada Nilai Kampanye Daring Tak Efektif Raup Suara PemilihIlustrasi Pilkada serentak 2020, IDN Times/ istimewa

KPU Tangerang Selatan (Tangsel) sudah memberikan saran bahwa kampanye yang paling aman adalah kampanye menggunakan media daring melalui beberapa aplikasi media sosial. Ketiga paslon yang nantinya akan ikut Pilkada 2020 di antaranya Muhamad-Rahayu Saraswati Djoyohadikusumo (1), Siti Nurazizah-Ruhamaben (2), dan pasangan nomor urut tiga, yakni petahana Benyamin Davnie-Pilar Saga Ichsan.

Calon Wakil Wali Kota Tangsel, Rahayu Saraswati - Muhamad punya program berZoompa yang menggunakan aplikasi Zoom. Namun dalam beberapa kesempatan juga, Saraswati menyebut kampanye secara daring atau virtual bukannya tanpa kendala. 

Selain soal komunikasi, kendala juga terjadi karena tidak semua masyarakat paham penggunaan media sosial. Seperti kasus yang ia temukan saat akan mengadakan pertemuan secara virtual melalui aplikasi Zoom. Ada warga yang tidak tahu, aplikasi apa itu. 

"Cara itu (daring), kita lakukan alternatifnya. Tetapi jujur itu masih sangat membatasi gerak kami dan juga cara kami, tidak semua orang juga terbiasa untuk menggunakan media sosial apalagi lewat online. Bahkan kemarin itu ada salah satu bapak yang tidak tahu Zoom itu apa, jadi kita mungkin untuk yang generasi mudanya itu mungkin bisa," kata Saraswati dalam Webinar, Jumat (18/9/2020).

Sementara itu,  Siti Nur Azizah dalam beberapa kesempatan terlihat menemui warga dalam upaya kampanyenya. Putri Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin itu memperkenalkan sejumlah program andalannya saat hadir dalam undangan warga Perumahan Kedaung Hijau, Jalan Kemuning IX, Kedaung, Pamulang, Tangerang Selatan, Senin (28/9/2020).

Dalam kampanye di tengah pandemik ini, Azizah mengingatkan masyarakat mengutamakan faktor kesehatan. Dia menuturkan, dalam Pilkada 2020 ini, pihaknya akan memperbanyak kampanye digital, salah satunya melalui kanal media sosial.

Azizah menyebut, untuk menyampaikan visi misinya bersama Ruhamaben menggabungkan metode kampanye konvensional dengan modern. Beberapa kali calon wakilnya, yakni Ruhamaben menggunakan aplikasi Zoom untuk melakukan interaksi dengan calon pemilihnya.

Sementara itu, Benyamin Davnie mengaku dia dan PIlar akan mengurangi kegiatan tatap muka. "Kami akan mengedepankan dan maksimalkan kampanye daring," ujar Benyamin, Rabu (23/9/2020).

Paslon ini juga mengaku akan menempatkan penanganan dan pencegahan COVID-19 sebagai salah satu program prioritas di sektor kesehatan serta sosial dalam melaksanakan kampanye.

"Pasangan Benyamin-Pilar memastikan akan terus membantu Pemkot Tangsel untuk menekan penyebaran virus, juga membantu mengurangi dampak sosial yang ditimbulkan dari pandemi COVID-19," kata Tim Komunikasi Benyamin Davnie-Pilar Saga Ichsan, Reza Ahmad, dikutip dari ANTARA, Rabu (7/10/2020).

Dalam data Bawaslu, Tangsel tercatat menggelar 74 kampanye tatap muka. Sebetulnya, ada daerah lain yang menggelar kampanye tatap muka yang lebih banyak, yakni Gunungkidul dan Kabupaten Sukoharjo. Namun, penambahan kasus  COVID-19 di dua daerah tersebut di bawah Tangsel, yakni masing-masing 9 (Gunungkidul) dan 30 kasus (Sukoharjo). 

10. Paslon di Malang gandeng content creator

Paslon Pilkada Nilai Kampanye Daring Tak Efektif Raup Suara PemilihIlustrasi Pilkada Serentak 2020 (IDN Times/Arief Rahmat)

Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib-Didik Budi Muljono (Ladub) sudah siap tempur untuk kampanye daring dengan menggandeng content creator.

Langkah awal yang diambil oleh tim pemenangan paslon nomor urut 2 itu adalah dengan meluncurkan platform digital resmi. Platform tersebut berupa website dan media sosial resmi yang menaungi Ladub. Hal itu dilakukan untuk mempermudah para pendukung yang ingin melihat aktivitas Lathifah-Didik selama masa kampanye. 

"Ini salah satu strategi kami untuk mengatasi masalah keterbatasan kampanye tatap muka," terang Jubir Paslon Ladub, Anas Muhammad, Sabtu (10/10/2020). 

Lebih jauh, Anas menyebut bahwa saat ini tim pemenangan Ladub sudah memiliki data pengguna media sosial di tiap daerah pilihan (dapil). Data tersebut amat penting sebagai bagian dari pemetaan sejauh mana efektifitas kampanye daring berlangsung. Terlebih dengan wilayah yang sangat luas, maka kampanye daring dinilai akan lebih mudah menjangkau pelosok-pelosok wilayah di Kabupagen Malang. 

"Pengguna sosmed di Kabupaten Malang ini terhitung cukup tinggi. Maka peluang tersebut akan coba kami manfaatkan untuk mengenalkan profil dan berbagai program dari paslon Ladub. Paling tidak kami ingin berbagai konten yang sudah dab akan disiapkan bisa terdistribusi secara massif melalui sosial media," tambahnya. 

Selain memaksimalkan kampanye daring, Anas juga menambahkan bahwa pihaknya tetap berupaya melakukan variasi dengan kampanye tatap muka. Tetapi tetap dengan mengedepankan protokol pencegahan COVID-19. Salah satu upaya kampanye tatap muka yang dilakukan Lathifah-Didik adalah dengan pola canvasing dan blusukan. Hal itu dilakukan untuk menginventarisir permasalahan yang ada di masyarakat. 

"Intinya kami siap dengan kampanye daring dan mendukung penerapan protokol kesehatan sesuai aturan kampanye yang berlaku. Kami juga optimis bisa memenangkan kontestasi karena strategi darat dan udara sudah siap dilakukan semua," tandasnya.

11. Paslon YESBRO di Lamongan mengaku online memudahkan jangkau orang di luar daerah

Paslon Pilkada Nilai Kampanye Daring Tak Efektif Raup Suara PemilihKampanye yang dilarang selama pandemik COVID-19 (IDN Times/Sukma Shakti)

Larangan menggelar kampanye secara terbuka demi mencegah penyebaran virus corona yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Lamongan tak membuat pasangan calon bupati Yuhronur Efendi dan wakilnya Abdul Rouf (YESBRO) kesulitan meraih dukungan dari masyarakat Lamongan.

Meski kampanye daring tidak seefektif kampanye tatap muka, namun hal tersebut justru menjadi kesempatan bagi mereka untuk menjangkau para calon pemilih yang berada di luar daerah. "Tidak masalah bagi kita, justru ketika visi dan misi kami ini diunggah di media sosial, banyak respons positif masyarakat Lamongan kepada kita. Buktinya ribuan pedagang pecel lele pada saat pemilihan 9 Desember nanti mereka akan pulang mendukung kami," kata Yuhronur, Sabtu (10/10/2020).

Yuhronur Efendi sendiri mengaku, sejak digulirkan aturan larangan kampanye tatap muka oleh KPU, pihaknya sudah meminta tim IT untuk mendaftarkan lima akun media sosial resmi mereka kepada KPU Lamongan. Setelah didaftarkan, tim kemudian diminta untuk mengunggah foto video serta visi misi.

"Kita sudah daftarkan lima akun Instagram, Facebook, YouTube ke KPU. Dan Alhamdulillah laporan yang masuk ke kami ternyata semua kalangan baik mellenial, orang tua mendukung kami," katanya.

Selain menggelar kampanye melalui media sosial, Yuhronur Efendi juga sering menyapa pendukungnya melalui sambungan telepon video call di beberapa tempat. "Setiap kecamatan dan desa itu ada tim yang kami bentuk, mereka juga kita akomodir di dalam group WhatsApp, karena larangan kampanye tatap muka maka kami melakukan video call. Mereka menyampaikan beberapa keluhan dan harapan pada kami," jelasnya.

Yuhronur Efendi sendiri tidak menampik jika kampanye secara daring tersebut masih mengalami sejumlah kendala. Salah satunya masalah jaringan internet dan mininya sinyal hp bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan.

12. Paslon di Sumsel sebut kampanye door to door lebih murah

Paslon Pilkada Nilai Kampanye Daring Tak Efektif Raup Suara PemilihPeraturan Kehadiran Peserta Saat Debat Pilkada 2020 (IDN Times/Sukma Shakti)

Koordinator Divisi Pengawasan Humas dan Hubungan Antar Lembaga dari Bawaslu Sumatra Selatan (Sumsel), Junaidi saat dikonfirmasi IDN Times, Kamis (8/10/2020), mengungkapkan sekian banyak aturan kampanye di Peraturan Komisi Pemilihan Umun (PKPU), belum ada satu pun paslon yang menggunakan sarana daring untuk berkampanye karena dianggap terlalu banyak kendala. 

Menurut Junaidi, 13 paslon di tujuh kabupaten penyelenggara pilkada serentak di Sumsel, mengaku lebih senang melaksanakan kampanye door to door. Selain dengan cara kampanye langsung, metode tersebut dirasa lebih murah dan efektif.

'"Door to door dianggap kampanye yang murah meriah dan langsung menyentuh masyarakat, istilahnya kampanye berbisik. Paslon juga memiliki waktu panjang untuk bertemu masyarakat secara langsung, dan dianggap efektif untuk menyampaikan visi dan misinya," jelas dia.

Menurut Junaidi, sinyal yang berada di daerah tidak sebagus di kota juga menjadi sebab kampanye daring tidak diminati. Apalagi pilkada serentak di Sumsel kebanyakan berada di pelosok tujuh kabupaten.

"Kendala sinyal di sana tidak merata. Alat tertentu seperti google meet dan zoom, tidak semua masyarakat paham. Mereka juga belum tentu punya handphone, kalaupun ada kuotanya tidak ada," jelas dia.

Tim penulis: I Wayan Antara, Ayu Afria Ulita Ermalia, Ni Ketut Wira Sanjiwani, Daruwaskita, Siti Umaiyah, Indah Permatasari Lubis, Larasati Rey, Anggun Puspitoningrum, Martin Tobing, Muhammad Iqbal, Alfi Ramadana, dan Rangga Erfizal. 

Baca Juga: Kampanye Daring Belum Dilirik Paslon Pilkada 2020 di 8 Kabupaten/Kota

Topic:

  • Martin Tobing

Berita Terkini Lainnya